Gempa Sisakan Trauma, Petani Nagekeo Berjuang Pulihkan Lahan

  • 07 Okt 2026 11:29 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Yayasan Mitra Tani Mandiri Nagekeo melalui pendampingnya Donatus Diwa mengidentifikasi bahwa sebagian petani belum berani menjalankan aktivitas pertanian secara normal pasca bencana gempa.
  • Petani di Kabupaten Nagekeo mengalami trauma psikologis akibat ancaman gempa susulan yang memengaruhi aktivitas pertanian mereka.
  • Kerusakan lahan pertanian dan terganggunya ketersediaan pangan menjadi tantangan serius dalam proses pemulihan sektor pertanian pascagempa.

RRI.CO.ID, Ende - Pemulihan sektor pertanian di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, menghadapi tantangan psikologis dan kerusakan sumber daya pertanian pascagempa. Pendamping LSM Yayasan Mitra Tani Mandiri Nagekeo, Donatus Diwa, mengatakan trauma akibat ancaman gempa susulan masih memengaruhi aktivitas petani di lapangan.

Dalam wawancara bersama Pro 1 RRI, Rabu, 7 Oktober 2026, Donatus menyebut sebagian petani mengalami ketakutan untuk kembali menjalankan aktivitas pertanian secara normal. Kondisi tersebut diperparah dengan kerusakan lahan serta terganggunya ketersediaan pangan yang menjadi sumber kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Menurut Donatus, petani kini harus membagi waktu untuk memulihkan lahan sekaligus memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Di sisi lain, dukungan untuk membantu mengurangi stres dan trauma petani korban gempa dinilai masih perlu diperkuat agar aktivitas pertanian dapat kembali berjalan secara bertahap.

“Sebagian petani masih mengalami ketakutan untuk kembali bertani secara normal karena kerusakan lahan dan terganggunya ketersediaan pangan, sehingga mereka harus membagi waktu antara memulihkan lahan dan memenuhi kebutuhan keluarga, sementara dukungan untuk mengurangi stres dan trauma masih perlu diperkuat.” ujarnya.

Donatus berharap pemulihan pertanian dilakukan melalui kolaborasi antara petani, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, aktivis, dan berbagai pihak yang berkaitan dengan sektor pertanian. Kerja sama lintas sektor dinilai penting agar pemulihan tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memperkuat ketahanan petani menghadapi risiko bencana.

Ia juga mendorong mitigasi dan adaptasi bencana menjadi gerakan bersama, termasuk dengan menerapkan pertanian yang lebih ramah lingkungan. Pengurangan penggunaan input kimia berlebihan, termasuk pestisida sistemik, dinilai penting untuk menjaga kualitas tanah, kesehatan manusia, lingkungan, dan ekosistem.

Pemulihan pertanian harus dilakukan melalui kolaborasi petani, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, aktivis, dan berbagai pihak terkait, dengan memperkuat mitigasi dan adaptasi bencana serta mendorong pertanian ramah lingkungan melalui pengurangan penggunaan input kimia berlebihan demi menjaga kualitas tanah, kesehatan manusia, lingkungan, dan ekosistem.” ucapnya.

Donatus optimistis penerapan pertanian organik dan ramah lingkungan dapat menjadi bagian dari strategi pemulihan pertanian Nagekeo secara berkelanjutan. Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya membantu petani bangkit setelah gempa, tetapi juga menjaga keberlanjutan lahan pertanian dalam jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....