Dampak Psikologis Pascagempa Bisa Berlangsung Lama

  • 06 Okt 2026 15:05 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Gempa bumi tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik tetapi juga berdampak signifikan pada kesehatan jiwa dan kondisi psikologis masyarakat yang mengalaminya.
  • Reaksi psikologis pascabencana dapat muncul sejak fase awal setelah kejadian dan dapat berlangsung dalam waktu tertentu, terutama jika korban terus berada dalam situasi penuh tekanan.
  • Perhatian khusus diperlukan terhadap kondisi psikologis korban gempa untuk mencegah berkembangnya masalah kesehatan jiwa yang berkepanjangan dan serius.

RRI, Kupang: Dampak gempa bumi tidak hanya menimbulkan kerusakan secara fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan jiwa masyarakat yang mengalaminya. Reaksi psikologis pascabencana dapat berlangsung dalam waktu tertentu, terutama jika korban terus berada dalam situasi yang penuh tekanan.

Ketua Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Imakulata Bete, mengatakan reaksi psikologis pada korban bencana dapat muncul sejak fase awal setelah kejadian. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian agar tidak berkembang menjadi masalah kesehatan jiwa yang berkepanjangan.

“Kalau stres awal, reaksi akut biasanya satu sampai empat minggu,” ujar Imakulata Bete dalam wawancara, Senin,5 Oktober 2026.

Menurutnya, dalam situasi bencana gempa yang terjadi secara susul-menyusul, tubuh seseorang dapat terus berada dalam kondisi waspada. Respons tersebut merupakan mekanisme alami tubuh ketika menghadapi ancaman.

Ia menjelaskan, ketika seseorang menghadapi ancaman seperti gempa, tubuh akan mengeluarkan hormon yang berperan dalam merespons situasi bahaya. Respons tersebut membuat seseorang berada dalam kondisi siap untuk menghadapi ancaman, melarikan diri atau membeku.

Namun, ketika situasi yang menimbulkan rasa takut terjadi berulang, tubuh dapat mempertahankan kondisi kewaspadaan tersebut. Kondisi ini dapat berlangsung lebih lama meskipun situasi darurat telah berakhir.

“Dalam keadaan seperti gempa dan yang terjadi susul menyusul, hormon-hormon stres itu tetap membuat kita bertahan dalam situasi waspada, mode survive,” katanya.

Kondisi stres yang berlangsung terus-menerus, menurut Imakulata, dapat menimbulkan berbagai reaksi psikologis. Beberapa di antaranya berupa kecemasan, sulit tidur dan trauma.

Persoalannya, gangguan psikologis tersebut sering kali tidak terlihat secara kasat mata. Kondisi ini membuat korban maupun orang di sekitarnya terkadang tidak menyadari gangguan yang sedang dialami.

“Karena tidak terlihat itu orang tidak aware dengan kondisi itu,” katanya.

Imakulata menuturkan, trauma akibat bencana juga tidak selalu selesai dalam hitungan hari atau minggu. Jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat, dampaknya dapat berlangsung lebih lama.

Dalam pendampingan psikososial yang dilakukan di sejumlah wilayah terdampak gempa Flores, IPKJI NTT juga menemukan respons psikologis pada anak-anak. Imakulata mengatakan, anak-anak dapat mengalami ketakutan berlebihan setelah gempa. Suara atau bunyi tertentu dapat membuat mereka kembali mengingat pengalaman ketika gempa terjadi.

Selain rasa takut, anak-anak juga dapat mengalami jantung berdebar, sulit tidur, kecemasan berlebihan hingga mimpi buruk. Bahkan, respons psikologis tersebut dapat disertai keluhan fisik seperti mual, karena itu, menurut Imakulata, pendampingan psikososial perlu menjadi bagian dari penanganan bencana.

Pemulihan tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan logistik dan fisik, tetapi juga harus memperhatikan kondisi kesehatan jiwa korban. IPKJI NTT bersama jajaran Direksi Rumah Sakit Jiwa Naimata Kupang sebelumnya melakukan pendampingan psikososial di sejumlah lokasi terdampak gempa Flores.

Tim yang difasilitasi Pemuda Katolik POMDA NTT tersebut menyambangi sejumlah posko di Nagekeo, Borong, Manggarai Timur, Reo dan Dampek. Pendampingan tersebut dilakukan untuk membantu korban mengenali serta mengekspresikan respons psikologis yang muncul setelah mengalami bencana, sekaligus mendorong proses pemulihan kesehatan jiwa secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....