Gempa Flores Sisakan Kecemasan pada Anak-Anak
- 06 Okt 2026 15:03 WIB
- Ende
Poin Utama
- IPKJI NTT menemukan respons psikologis signifikan pada korban gempa di Kupang, termasuk gangguan tidur, kecemasan berlebihan, mudah menangis, dan emosi tidak stabil pada orang dewasa.
- Anak-anak menunjukkan respons psikologis yang lebih kompleks karena keterbatasan pemahaman terhadap peristiwa gempa namun tetap merasakan dampak psikologis bencana dan kondisi orang tua mereka.
- Pendampingan langsung di lokasi-lokasi tertentu menjadi metode IPKJI NTT untuk mengidentifikasi dan memahami dampak psikologis korban gempa secara komprehensif.
RRI.CO.ID,Kupang - Dari hasil pendampingan di sejumlah lokasi, IPKJI NTT menemukan berbagai respons psikologis pada korban, baik orang dewasa maupun anak-anak. Pada orang dewasa, kata Imakulata Bete dalam wawancara bersama RRI,Senin,5 Oktober 2026, sejumlah korban menunjukkan kondisi seperti sulit tidur, kecemasan berlebihan, mudah menangis dan emosi yang tidak stabil.
Sementara pada anak-anak, respons terhadap pengalaman gempa terlihat lebih kompleks. Dijelaskan Imakulata, anak-anak masih memiliki keterbatasan dalam memahami apa yang terjadi, namun pada saat yang sama mereka ikut merasakan dampak psikologis dari bencana maupun kondisi orang tua.
Imakulata, Ketua IPKJI Provinsi NTT, menceritakan tim sempat mengajak anak-anak di salah satu posko untuk bercerita. Anak-anak juga diberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan yang mereka alami setelah gempa.
“Mereka bilang, Ibu, kami takut, kami sangat ketakutan. Setiap kali ada bunyi, kami pikir itu gempa.’ Jadi kami membiarkan mereka mengeluarkan emosi dan mereka bisa menangis,” ucapnya.
Menurutnya, anak-anak juga dapat menjadi tempat pelampiasan emosi orang tua yang sedang mengalami tekanan akibat bencana. Karena itu, pendampingan terhadap anak dan orang tua perlu dilakukan secara bersamaan.
Anak-anak juga ditemukan mengalami kewaspadaan berlebihan, di mana suara atau bunyi tertentu dapat mengingatkan mereka kembali pada saat gempa terjadi. Kondisi tersebut dapat disertai jantung berdebar, sulit tidur, kecemasan berlebihan, hingga mimpi buruk.
“Anak-anak itu mimpi buruk, ingat kembali apa yang pertama kali terjadi. Bahkan sampai mual secara fisik,” ucap Imakulata.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....