Sembilan Tandon Air untuk Menjaga Harapan Ditengah Pemulihan
- 07 Okt 2026 09:02 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende - Air bersih menjadi kebutuhan sederhana yang tidak bisa ditunda. Bagi masyarakat terdampak gempa bumi Flores, ketersediaan air bersih menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari sekaligus salah satu kebutuhan yang masih harus diperhatikan dalam proses pemulihan pascabencana.
Melihat kebutuhan tersebut, Tim Logistik dan Distribusi Pos Pelayanan Kemanusiaan Bencana Gempa Bumi Flores, Jaringan Caritas dan Keuskupan Agung Ende, kembali bergerak. Senin, 5 Oktober 2026, tim menyalurkan sembilan unit tandon air ke tiga wilayah yang membutuhkan.
Bantuan itu tidak datang dalam jumlah besar, tetapi membawa harapan agar masyarakat dapat lebih mudah memenuhi kebutuhan air dalam aktivitas sehari-hari. Empat unit tandon disalurkan kepada Paroki Soa, Kevikepan Bajawa, tiga unit kepada Paroki Gako, dan dua unit lainnya kepada Komunitas Perkebunan Wulabara.
RD. Kaludius Romanus Mbusa dari Tim Logistik dan Distribusi Keuskupan Agung Ende mengatakan, bantuan kali ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Selain tandon air, tim juga membawa perlengkapan lain yang diharapkan dapat mendukung warga yang aktivitas kehidupannya masih terdampak bencana.
Kepada RRI Ende, saat ditemui di Pastoran Paroki Salib Suci Soa, Senin, 5 Oktober 2026, RD. Kaludius menjelaskan bahwa bantuan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih sekaligus mendukung aktivitas mereka selama masa pemulihan.
Sebanyak 42 dos sepatu juga disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Bantuan tersebut menjadi bagian dari dukungan yang diberikan tim kepada warga terdampak, di tengah upaya mereka untuk kembali menjalankan kehidupan secara perlahan.
Bagi RD. Kaludius, perjalanan mendistribusikan bantuan bukan sekadar memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Setiap perjalanan menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat dan memahami kebutuhan yang mereka hadapi setelah bencana.
Sejak masa tanggap darurat hingga memasuki masa transisi pascabencana, RD. Kaludius telah terlibat dalam kurang lebih sepuluh kali distribusi bantuan ke berbagai wilayah di Keuskupan Agung Ende. Jumlah tersebut belum termasuk perjalanan distribusi yang dilakukan rekan-rekannya dalam tim secara bergantian.
Hampir sepuluh kali turun ke lapangan membuatnya memahami bahwa kebutuhan masyarakat begitu beragam. Di sisi lain, kemampuan tim dalam menyediakan bantuan juga memiliki batas sehingga tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi dan tidak semua persoalan pascabencana dapat diselesaikan melalui bantuan logistik.
Namun, keterbatasan itu tidak membuat sebuah bantuan menjadi kehilangan arti. Sebuah tandon air yang dapat digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, atau sepasang sepatu yang membantu seseorang kembali beraktivitas, dapat memiliki nilai yang jauh lebih besar bagi penerimanya.
Karena itu, RD. Kaludius berharap setiap bantuan yang sampai kepada masyarakat dapat digunakan sesuai kebutuhan dan memberikan manfaat nyata. Sekecil apa pun bantuan tersebut, ia berharap kehadirannya mampu meringankan sebagian beban warga yang masih menjalani proses pemulihan.
Sembilan tandon air kini menjadi bagian dari perjalanan panjang pemulihan masyarakat terdampak gempa. Benda-benda sederhana itu bukan hanya tempat menampung air, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kebutuhan dasar masyarakat tetap diperhatikan di tengah perjalanan mereka untuk bangkit.
Sebab, pemulihan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, ia dimulai dari air yang tersedia untuk kebutuhan sehari-hari, dari bantuan yang tiba pada waktunya, dan dari kehadiran orang-orang yang bersedia berjalan bersama masyarakat hingga mereka kembali menemukan kekuatan untuk melanjutkan kehidupan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....