Sepuluh Jam di Laut Lestari dan Feri Bertahan dalam Satu Pelampung

  • 04 Okt 2026 12:58 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende- Kisah pasangan asal Lembata, Lestari dan Feri, yang bertahan selama sekitar 10 jam dengan satu pelampung setelah KM Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan di Laut Jawa, menjadi gambaran kuat tentang arti bertahan bersama. Kisah tersebut diangkat Ketua Stipar Ende, Dr. Fransiskus Zaverius Maria Deidhae, M.A., dalam khotbah Misa Syukur Dies Natalis Stipar Ende ke-36, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Saat menyampaikan khotbah dengan tema “Dari Komunitas Stipar Kita Bertumbuh Menuju Generasi yang Beriman”, Fransiskus mengatakan bahwa Feri tidak memilih menyelamatkan dirinya sendiri ketika kapal mulai terbalik, tetapi mencari Lestari dan berusaha bertahan bersama. Keduanya kemudian menggunakan satu pelampung untuk bertahan di tengah laut hingga akhirnya diselamatkan.

Dr.Fransiskus menegaskan, kisah tersebut memperlihatkan bahwa cinta dan kebersamaan bukan sekadar kata-kata, tetapi kesediaan untuk bertahan ketika keadaan menjadi sulit. Pengalaman pasangan asal Lembata itu sekaligus menjadi gambaran bahwa manusia secara kodrati tidak diciptakan untuk menjalani kehidupan seorang diri.

Ia menjelaskan, kebersamaan dalam jumlah yang lebih besar dapat berkembang menjadi komunitas yang dibangun oleh interaksi, aktivitas bersama dan terutama sentimen atau perasaan terikat yang dilandasi kasih. Karena itu, keluarga, kelompok umat basis, lingkungan, paroki, kelompok kategorial maupun tempat kerja semestinya tidak hanya menjadi organisasi sosial, tetapi ruang bagi manusia untuk mengalami kasih dan pertolongan Allah.

Ia juga menuturkan, mengaitkan pesan tersebut dengan Injil Lukas 10:17-24 ketika para murid kembali dari perutusan dengan penuh sukacita dan berbagi pengalaman bersama Yesus. Menurutnya, para murid tidak dipanggil menikmati keberhasilan secara individual, sebab perutusan mereka berlangsung dalam kebersamaan dan sukacita itu kemudian dibawa kembali ke dalam persekutuan.

Menurutnya, keberhasilan komunitas tidak seharusnya diukur dari kebanggaan atas pencapaian atau kekuasaan yang dimiliki anggotanya. Yesus justru mengarahkan para murid untuk bersukacita karena nama mereka terdaftar di surga, sehingga pusat kehidupan komunitas tetap berada pada rahmat dan keselamatan Allah.

Ia menambahkan, bahwa kekuatan jahat dalam kehidupan modern dapat hadir secara samar melalui teknologi, pola hidup dan berbagai nilai yang berpotensi merendahkan martabat manusia. Dalam situasi tersebut, komunitas perlu menjadi ruang untuk saling mengingatkan, membangun perlindungan dan menolong anggota yang mulai kehilangan arah.

Dr. Fransiskus berharap generasi yang dibentuk Stipar mampu membawa semangat kasih dan solidaritas tersebut ke tengah keluarga, Gereja dan masyarakat. dan berharap setiap lulusan memiliki keberanian untuk menjadi pribadi yang hadir bagi sesama, sehingga ketika “bahtera kehidupan” menghadapi badai, tidak ada anggota komunitas yang memilih menyelamatkan diri sendiri dan meninggalkan yang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....