Pemkab Manggarai Barat Dorong Pangan Lokal Jadi Menu Utama MBG

  • 04 Okt 2026 05:48 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memprioritaskan pangan lokal sebagai menu utama dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dorongan tersebut disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Manggarai Barat, Salvador Pinto, saat mewakili Bupati Manggarai Barat dalam peresmian SPPG Provinsi Wilayah Timur Indonesia di Pulau Mesa, Desa Pasir Putih, Jumat 2 Oktober 2026.

Salvador mengatakan, pemanfaatan pangan lokal dalam program MBG diharapkan tidak hanya mendukung pemenuhan gizi anak, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya nelayan, petani, dan peternak.

“Pemerintah tentu sangat berharap agar pangan lokal mendapat ruang yang lebih besar dalam menu program MBG,” kata Salvador.

Ia menjelaskan, Manggarai Barat memiliki potensi perikanan yang besar, terutama di wilayah kepulauan yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan penghasilan pada sektor perikanan. Salah satu komoditas unggulan daerah tersebut adalah ikan tuna yang dipasarkan hingga ke luar negeri.

Selain ikan, ia mendorong pemanfaatan hasil pertanian dan peternakan dari daerah-daerah yang menjadi sentra produksi di Manggarai Barat.

“Dengan dimanfaatkannya pangan lokal, ekonomi para nelayan, petani, dan peternak bisa ikut tumbuh bersama dengan program MBG ini,” ungkapnya.

Salvador juga menekankan pentingnya menjaga kualitas makanan dalam pelaksanaan program MBG. Menurutnya, pengawasan perlu dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan melalui Rumah Potong Hewan serta Dinas Kesehatan.

Upaya tersebut dinilai penting untuk memastikan makanan yang disajikan memenuhi standar kesehatan dan mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Sementara itu, Ketua DPRD Manggarai Barat, Benediktus Nurdin, meminta agar pelaksanaan program MBG memperhatikan kearifan lokal dengan memberikan porsi lebih besar bagi pangan yang dihasilkan masyarakat setempat.

Menurut Benediktus, penggunaan pangan lokal tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat.

Dirinya juga mengingatkan agar kualitas dan keamanan makanan dalam program MBG menjadi perhatian serius. Benediktus mengungkapkan, sejumlah orang tua siswa di daerahnya masih merasa khawatir anak-anak mereka mengonsumsi makanan MBG setelah mengalami kejadian keracunan.

“Di daerah saya, banyak orang tua siswa itu trauma. Mereka tidak mau anaknya makan MBG karena pernah keracunan,” ungkapnya.

Karena itu, ia meminta agar sistem pelaksanaan program MBG diperbaiki dan dijalankan secara optimal sehingga tujuan menyiapkan generasi emas Indonesia pada 2045 dapat tercapai.

Menanggapi dorongan tersebut, Sekretaris Utama Badan Gizi Nasional, Lili Khamiliyah, meminta seluruh SPPG di Manggarai Barat mengutamakan penggunaan pangan lokal, termasuk ikan, sebagai menu utama.

“Utamakan pangan lokal, seperti ikan sebagai menu utama,” kata Lili.

Ia juga menegaskan bahwa setiap SPPG harus menjaga kebersihan, mutu, dan kualitas makanan yang disajikan kepada penerima manfaat.

“Semua SPPG utamakan kebersihan. Yang kita layani ini adalah anak kita sendiri. Jaga mutu makanan agar hasilnya benar-benar berkualitas,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....