Nelayan Sikka Kembali Melaut, Tuna Cakalang Tembus Ekspor
- 21 Sep 2026 08:18 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Sikka – Aktivitas perikanan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, mulai kembali bergerak setelah sempat terhenti akibat gempa Flores pada 15 Agustus 2026. Nelayan perlahan kembali melaut, dengan hasil tangkapan tuna dan cakalang mulai diserap perusahaan penampung untuk kebutuhan pasar ekspor.
Plt. Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sikka, Malik Bakhtiar, mengatakan kondisi perikanan berangsur pulih meski aktivitas nelayan sempat terganggu pascagempa. Pernyataan itu disampaikan Malik saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis, 17 September 2026.
Menurut Malik, trauma terhadap gempa dan tsunami yang pernah terjadi pada 1992 membuat sebagian nelayan memilih tidak melaut setelah gempa. Kondisi tersebut sempat menyebabkan pasokan ikan di pasar menurun dan harga komoditas perikanan mengalami kenaikan.
Malik menyebut sarana produksi perikanan relatif tidak terdampak gempa karena kapal nelayan tidak mengalami kerusakan berarti. Kerusakan lebih banyak terjadi pada rumah-rumah nelayan yang kemudian didata pemerintah kelurahan dan diserahkan kepada BPBD untuk penanganan lebih lanjut.
Di tengah proses pemulihan, nelayan kembali menangkap tuna dan cakalang yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Hasil tangkapan dibagi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Sikka dan sebagian lainnya dijual kepada perusahaan penampung berskala besar.
“Nelayan terbantu karena hasil tangkapan dapat dibagi untuk konsumsi masyarakat lokal dan sebagian dijual ke perusahaan untuk meningkatkan pendapatan mereka,” kata Malik. Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat roda ekonomi nelayan mulai kembali bergerak setelah aktivitas melaut sempat terhenti.
Dinas Perikanan dan Kelautan mencatat produksi ikan sepanjang 2026 masih bersifat fluktuatif dan angka totalnya baru dapat dikompilasi secara akurat pada 2027. Pada Agustus 2026, produksi mengalami penurunan karena aktivitas melaut terhenti selama beberapa hari setelah gempa, berbeda dengan periode yang sama pada 2025.
Kabupaten Sikka memiliki sekitar 5.000 Rumah Tangga Perikanan (RTP) yang tersebar di wilayah pesisir. Nelayan tersebut terdiri atas nelayan penuh, nelayan sambilan utama, nelayan sambilan tambahan, serta buruh nelayan.
Malik menyebut wilayah pesisir Sikka mencakup 17 kecamatan dan sekitar 86 desa pesisir, termasuk Alok, Alok Barat, Alok Timur, Palue, Lela, Talibura, Paga, dan Bola. Data desa pesisir masih diidentifikasi ulang karena adanya pemekaran wilayah.
Kecamatan Alok, Alok Barat, dan Alok Timur menjadi salah satu sentra pemasok ikan terbesar karena didukung armada kapal berukuran relatif besar. Secara keseluruhan, Sikka memiliki sekitar 4.000 unit kapal motor, dengan 85 unit di antaranya berukuran di atas 10 gross tonnage (GT), sedangkan lainnya berada di bawah 10 GT.
Dinas Perikanan dan Kelautan mengingatkan nelayan tetap mengutamakan keselamatan karena kondisi cuaca masih berubah-ubah pada masa pemulihan pascabencana. Nelayan diminta tidak memaksakan diri melaut saat cuaca memburuk serta menjaga komunikasi dan menyampaikan informasi mengenai lokasi penangkapan untuk mengantisipasi kondisi darurat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....