Pendampingan Psikososial Anak Perempuan Jadi Prioritas Pascagempa
- 21 Sep 2026 07:57 WIB
- Ende
Poin Utama
- Pendampingan psikososial bagi anak perempuan menjadi prioritas dalam fase tanggap darurat dan transisi pascagempa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
- Anak perempuan menghadapi kerentanan tambahan berupa kecemasan, hilangnya privasi, dan risiko kekerasan berbasis gender akibat bencana gempa.
- Observasi lapangan menunjukkan sejumlah anak perempuan mengalami kecemasan tinggi, ketakutan terhadap gempa susulan, dan merasa belum aman di posko pengungsian.
RRI.CO.ID, Ende - Pendampingan psikososial bagi anak, khususnya anak perempuan, menjadi perhatian dalam masa tanggap darurat dan transisi pascagempa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Kepala Dinas P2KBP3A Manggarai Timur, Pranata Kristiani Agas, mengatakan kelompok anak dan perempuan menghadapi kerentanan tambahan berupa kecemasan, hilangnya privasi, serta risiko kekerasan berbasis gender.
Ani dalam wawancara bersama RRI, Senin, 21 September 2026, menjelaskan, hasil observasi di lapangan menunjukkan sejumlah anak perempuan mengalami kecemasan lebih tinggi dan rasa takut terhadap gempa susulan. Kondisi tersebut juga terlihat di posko pengungsian, ketika sebagian anak mengaku belum merasa aman dan berharap dapat segera kembali tinggal di rumah.
Tekanan psikologis pascabencana dapat terlihat melalui perubahan perilaku dan kondisi fisik sesuai kelompok usia, seperti sering menangis, sulit berpisah dari orang tua, kehilangan minat bermain, mimpi buruk, sakit kepala, serta sakit perut tanpa penyebab medis yang jelas. "Rasa aman menjadi fondasi penting agar anak dapat keluar dari kondisi siaga dan menjalani proses pemulihan emosional secara bertahap," ujarnya.
Untuk membantu anak selama masa tanggap darurat, pemerintah daerah bersama lembaga swadaya masyarakat dan relawan menerapkan Psychological First Aid (PFA) melalui pendekatan menenangkan, mendengarkan, dan menghubungkan anak dengan layanan yang diperlukan. Ruang ramah anak juga disediakan melalui kegiatan bermain, menggambar, bercerita, serta sekolah darurat untuk menjaga rutinitas harian dan memberi ruang bagi anak mengekspresikan kecemasannya.
Namun, pemenuhan kebutuhan privasi dan perlindungan anak perempuan di sejumlah lokasi pengungsian masih menjadi pekerjaan rumah karena keterbatasan tenda dan sarana prasarana. Ani menyebut pemerintah daerah mulai mengaktifkan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM), termasuk posko pengaduan dan sistem patroli keamanan yang responsif terhadap perlindungan anak, serta menyiapkan bantuan khusus seperti dignity kit.
Bagi anak yang menunjukkan trauma dan membutuhkan penanganan lebih lanjut, tim PFA melakukan pendataan dan rujukan kepada psikolog klinis, dengan melibatkan konselor dan pekerja sosial. Ani mengajak orang tua dan masyarakat menciptakan ruang aman, mendengarkan anak tanpa menghakimi atau memaksa mereka menceritakan kembali pengalaman traumatis, karena perlindungan fisik dan mental anak dinilai penting dalam pemulihan masyarakat Manggarai Timur pascagempa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....