Usai Kaul Pertama, Tiga Suster SFSC Diutus Menemani Sesama yang Terluka

  • 18 Sep 2026 13:53 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Maumere- Pengikraran Kaul Pertama tiga suster muda Kongregasi SFSC di Nita, Maumere, menjadi titik awal perutusan untuk hadir dan merawat luka sesama di tengah kehidupan masyarakat. Pesan itu disampaikan dalam perayaan Kaul Pertama yang berlangsung di Kapel Biara SFSC, Kamis (17/9/2026), bertepatan dengan Pesta Stigmata Santo Fransiskus Assisi.

Pater Charles Lelu Umbu Sogar Ame Talu, OFM, Pastor Paroki Yesus Kerahiman Ilahi Aeramo, saat diwawancarai oleh RRI Ende pada Kamis 17 September 2026 di Kapel Biara SFSC, mengatakan panggilan para Neo Profes perlu diwujudkan melalui keberanian untuk hadir di tengah masyarakat. Menurutnya, spiritualitas Santo Fransiskus mengajarkan para pengikut Kristus untuk memberi perhatian kepada mereka yang mengalami luka dan kesulitan hidup.

Ia menjelaskan, Suster yang mengikrarkan Kaul Pertama tersebut yakni Suster Veronika Tuku, SFSC dari Keuskupan Agung Ende, Paroki Hati Kudus Yesus Maunori; Suster Hildegardis Lapy, SFSC dari Keuskupan Atambua, Paroki Santo Fransiskus Xaverius Fatuoni; dan Suster Yunita Kara, SFSC dari Keuskupan Maumere, Paroki Santa Maria Imakulata Lekebai.

Ia menegaskan, Ketiganya mengikrarkan Kaul Pertama pada pukul 16.00 WITA setelah menjalani proses pembinaan dan persiapan dalam kehidupan religius. Pengikraran kaul tersebut menandai dimulainya babak baru perjalanan panggilan mereka sebagai anggota hidup bakti dalam Kongregasi SFSC.

Pater Charles yang memimpin perayaan sekaligus Guardian Gardianat Rieti Flores Tengah mengaitkan Pesta Stigmata Santo Fransiskus dengan perjalanan panggilan ketiga Neo Profes. Menurutnya, pengalaman Santo Fransiskus menerima lima luka Kristus menjadi bagian dari semangat yang diteruskan oleh mereka yang memilih mengikuti Kristus dalam spiritualitas Fransiskan.

Menurutnya, Perutusan itu tidak berhenti pada kehidupan doa dan komunitas, tetapi perlu menyentuh kehidupan mereka yang membutuhkan perhatian. Ia mengajak para Neo Profes untuk membasuh luka Kristus yang dijumpai dalam diri orang miskin, mereka yang diabaikan dan disingkirkan, termasuk orang-orang yang disebutnya sebagai “kusta baru”.

Ia menambahkan, Konteks kehidupan masyarakat Flores yang masih menghadapi dampak pascagempa juga menjadi bagian dari realitas perutusan tersebut. Kehadiran kaum religius, menurut Pater Charles, perlu diwujudkan melalui solidaritas dan keberanian berjalan bersama masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.

Pater Charles berharap ketiga Neo Profes SFSC mampu membawa semangat Santo Fransiskus dalam setiap tugas dan pelayanan yang dipercayakan kepada mereka. Ia berharap para suster berani hadir di tengah masyarakat, terutama bersama mereka yang miskin, terluka, diabaikan, dan membutuhkan pendampingan, sehingga panggilan hidup bakti mereka menjadi wujud kasih dan solidaritas kepada sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....