SMPK Immaculata Ruteng Bangun Enam Tenda Darurat dari Bambu untuk KBM

  • 02 Sep 2026 19:13 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai – Satuan pendidikan di Kabupaten Manggarai, NTT, bergerak cepat menyiapkan tenda darurat untuk memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan pascagempa. Di SMPK Immaculata Ruteng, para guru secara swadaya bergotong royong membangun ruang kelas darurat berbahan bambu di area lapangan SMAK Setia Bakti.

Wakasekurikulum SMPK Immaculata Ruteng, Sherly Damon, mengatakan kegiatan pembelajaran dialihkan sementara secara daring sejak 18 Agustus 2026, atau tiga hari setelah gempa mengguncang wilayah Manggarai. Melalui grup WhatsApp, wali kelas secara intensif menyapa dan memantau kondisi siswa sekaligus memberikan penugasan dan materi pembelajaran.

Sherly menjelaskan, tenda darurat tersebut akan menggunakan terpal sebagai atap, sedangkan bagian dinding memanfaatkan seng bekas pembongkaran ruang kelas yang direvitalisasi. Jika persediaan seng tidak mencukupi, dinding tenda akan ditutup menggunakan terpal.

Sherly menuturkan, pihak sekolah berencana membangun enam tenda darurat untuk menampung kegiatan pembelajaran. Namun, proses pembangunan masih menghadapi kendala ketersediaan bahan bambu yang digunakan sebagai struktur utama tenda.

Saat ini, pihak sekolah berpacu dengan waktu menyiapkan sarana belajar sementara sebelum kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka. Kepastian dimulainya pembelajaran tatap muka akan disampaikan kepada siswa setelah seluruh tenda darurat selesai dibangun.

"Sesuai arahan pemerintah, kegiatan belajar mengajar (KBM) saat ini diwajibkan menggunakan tenda darurat dan belum diizinkan dalam ruangan. Jadi kapan pun tenda darurat kami ini selesai dibangun, baru kami informasikan kepastian tanggal pembelajaran tatap muka kepada anak-anak," ujar Sherly saat ditemui RRI di lokasi, Selasa 1 September 2026.

Di SMPK Immaculata Ruteng, sebanyak 12 ruang kelas mengalami kerusakan berat akibat gempa dan sebagian di antaranya harus dibongkar. Kondisi tersebut membuat pihak sekolah harus menyiapkan ruang belajar sementara agar kegiatan pendidikan tetap berlangsung.

"Kondisi sekolah pascagempa mengalami kerusakan yang cukup berat. Ada ruangan-ruangan yang kemungkinan besar harus dirobohkan. Jadi sekitar 12 ruangan kami terdampak gempa," katanya.

Untuk mengoptimalkan penggunaan tenda darurat, kegiatan belajar mengajar nantinya akan menerapkan sistem shift. Meski pembagian jadwal belum ditentukan, sekolah memastikan seluruh siswa tetap mendapatkan pembelajaran tatap muka setiap hari.

Sherly mengatakan pembelajaran di tenda darurat akan berlangsung hingga kondisi sekolah dinyatakan aman dan kondusif sesuai instruksi pemerintah. Ruang kelas yang masih layak digunakan akan kembali dimanfaatkan setelah mendapat izin, sedangkan ruangan yang mengalami kerusakan harus diperbaiki terlebih dahulu.

Ia menyebut waktu pemulihan sekolah belum dapat dipastikan karena masih terdapat sejumlah ruang kelas yang harus diperbaiki. Pembelajaran secara normal baru akan kembali dilakukan setelah perbaikan selesai dan kondisi sekolah dinyatakan aman.

Sherly juga menjelaskan pola pembelajaran di tenda darurat akan berbeda dibandingkan pembelajaran sebelum gempa. Sekolah tidak hanya mengejar ketuntasan materi, tetapi juga memberikan perhatian pada pemulihan psikologis siswa melalui kegiatan yang lebih menyenangkan dan mendukung proses trauma healing.

"Pasti akan ada perbedaan. Kalau kemarin di dalam kelas kami bisa menggunakan LCD dan segala macam, di sini kami lebih pada pembelajaran yang utamanya menghilangkan trauma atau trauma healing untuk anak-anak," ujarnya.

Menurutnya, guru juga masih merasakan dampak psikologis akibat gempa sehingga kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dalam proses pembelajaran. Karena itu, materi pelajaran akan tetap diberikan, tetapi tidak menjadi satu-satunya fokus selama masa tanggap darurat.

"Kami tidak terlalu mengejar ketuntasan materi, tetapi lebih pada bagaimana mereka bisa belajar dengan tenang, asyik, dan menyenangkan. Itu pembelajaran yang bisa kami buat selama masa tanggap darurat," ucap Sherly.

Meski demikian, perhatian khusus tetap diberikan kepada siswa kelas IX karena mereka harus mempersiapkan diri menghadapi ujian Tes Kemampuan Akademik (TKA). Sekolah akan menyesuaikan pembelajaran agar persiapan menghadapi TKA tetap berjalan di tengah kondisi darurat.

Sherly berharap pemerintah dapat menyediakan tenda darurat yang lebih layak untuk mendukung proses pembelajaran, sehingga sekolah tidak harus secara swadaya membangun ruang belajar sementara menggunakan bambu dan bahan seadanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....