Gempa Flores, Ribuan Rumah di Sikka Rusak, Ribuan Warga Mengungsi dan Krisis Air

  • 24 Agt 2026 13:04 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Sikka – Gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Sikka, berdampak pada seluruh 21 kecamatan dengan sekitar 352 ribu jiwa merasakan guncangan. Kepala Dinas PUPR Kabupaten Sikka Margaretha M.D.M. Bapa dalam rapat koordinasi di Pos Komando Tanggap Darurat Gempa Kabupaten Sikka, Minggu, 23 Agustus 2026 malam menyebutkan, pendataan sementara mencatat 3.942 rumah warga mengalami kerusakan, terdiri dari 854 rumah rusak berat, 824 rusak sedang, dan 2.264 rusak ringan.

Data tersebut masih diverifikasi dan divalidasi bersama BNPB serta Kementerian Pekerjaan Umum. Kerusakan tidak hanya terjadi pada rumah warga, tetapi juga menyasar fasilitas pendidikan, kesehatan, pemerintahan, jalan, jembatan, rumah ibadah, serta sarana air bersih dan sanitasi. Pada sektor pemerintahan, tercatat delapan gedung rusak berat, enam rusak sedang, dan 38 rusak ringan.

Kantor Bupati Sikka telah menjalani asesmen dan direkomendasikan untuk digunakan secara terbatas, sementara Mall Pelayanan Publik dan gedung perpustakaan yang baru dibangun sekitar dua tahun lalu masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Di sektor kesehatan, tiga rumah sakit telah diperiksa dan 27 puskesmas masih dalam proses asesmen.

Ancaman krisis air bersih kini menjadi persoalan serius di Kecamatan Palue. Sebagian besar warga mengandalkan air hujan yang ditampung dalam bak penampungan, namun gempa menyebabkan sejumlah bak mengalami keretakan sehingga persediaan air untuk kebutuhan sehari-hari terganggu.

Pemerintah telah mengirimkan satu truk air mineral ke Palue, tetapi bantuan tersebut diperkirakan cepat habis sehingga distribusi air bersih perlu terus dilakukan untuk mencegah warga mengalami kekurangan. "Untuk konsumsi air bersihnya terbatas pasca keretakan di bak-bak penampung air hujan," ujarnya.

Di sektor transportasi, jalur utara yang menghubungkan Sikka dan Ende juga menjadi perhatian. Gempa memperparah kondisi ruas jalan yang sebelumnya telah menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi, hingga di beberapa titik badan jalan yang dapat dilalui disebut hanya tersisa untuk satu kendaraan. Sejumlah jembatan berada dalam kondisi kritis, sementara beberapa ruas jalan tertutup longsor.

Kondisi geografis dan keterbatasan alat berat turut menjadi kendala karena Dinas PUPR Sikka hanya memiliki satu excavator dan satu loader yang sudah cukup tua. Di pesisir Palue, abrasi yang diperparah gempa bahkan mengancam jalan, sekolah dan kantor camat. Sementara itu, ribuan warga masih memilih mengungsi demi keselamatan.

Data Pemerintah Kabupaten Sikka hingga Minggu sore mencatat 5.658 kepala keluarga atau 19.737 jiwa mengungsi secara mandiri di 19 kecamatan. Sementara di pengungsian terpusat Gelora Samador terdapat 345 kepala keluarga atau 1.264 jiwa.

Pemerintah Provinsi NTT bersama Pemkab Sikka dan pemerintah pusat terus memperkuat koordinasi untuk memenuhi kebutuhan dasar, mempercepat asesmen kerusakan, serta memulihkan infrastruktur vital agar masyarakat dapat kembali merasa aman dan secara bertahap menjalani kehidupan normal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....