Peserta Pelatihan Disiapkan Bantu Penyintas Gempa Kembali Menemukan Harapan
- 19 Agt 2026 19:52 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende- Mahasiswa dan dosen yang mengikuti pelatihan dukungan psikososial di STIPAR Atma Reksa Ende tidak hanya belajar teknik konseling, tetapi juga dipersiapkan menjadi relawan yang mampu membantu penyintas menemukan kembali kekuatan setelah bencana. Keterampilan tersebut diberikan melalui pembekalan dan latihan langsung sebelum peserta terlibat dalam pendampingan di lapangan.
Penanggung Jawab kegiatan, Dr. Norbertus Labu, S.Fil., M.Si., menyampaikan hal tersebut saat memberikan materi kepada peserta di Aula STIPAR Ende, Rabu 19 Agustus 2026. Ia mengatakan keterlibatan dosen dan mahasiswa penting untuk memperkuat kesiapan relawan sekaligus memastikan bantuan yang diberikan tetap aman dan sesuai kebutuhan penyintas.
Dr. Norbertus mengatakan, peserta pelatihan tidak hanya berasal dari mahasiswa semester lima Program Studi Konseling Pastoral serta semester lima dan semester sembilan Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik, tetapi juga melibatkan sejumlah dosen dari program studi terkait. Para mahasiswa dan dosen bersama-sama mendapatkan pembekalan mengenai dasar-dasar dukungan psikososial bagi anak maupun orang dewasa dalam situasi darurat.
Ia menjelaskan, salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki relawan adalah membantu penyintas mengenali kembali sumber kekuatan dalam dirinya. Pendamping dapat mengajak penyintas melihat hal-hal yang selama ini membantu mereka bertahan dan menentukan satu langkah kecil yang masih dapat dilakukan.
Pendekatan tersebut penting karena bencana tidak hanya menimbulkan kehilangan secara fisik, tetapi juga dapat memengaruhi rasa aman, hubungan sosial, kepercayaan diri, hingga cara seseorang memandang masa depannya. Karena itu, pendampingan perlu diarahkan untuk mengembalikan rasa memiliki, pilihan, dan kemampuan penyintas dalam mengambil keputusan, ucapnya.
Menurutnya, bentuk pendampingan dapat disesuaikan dengan persoalan yang dihadapi, termasuk kedukaan, kecemasan, rasa bersalah, persoalan keluarga, tekanan ekonomi, kehilangan mata pencaharian, makna hidup, hingga persoalan iman. Namun, ketika ditemukan kondisi berisiko tinggi, relawan harus segera menghubungkan penyintas dengan layanan kesehatan atau tenaga profesional.
Ia menambahkan, untuk peserta baik mahasiswa maupun dosen, agar tidak menganggap diri harus menjadi penyelesai seluruh persoalan yang dialami masyarakat. Peran relawan adalah menjadi penghubung yang membantu penyintas mendapatkan dukungan dan perlahan kembali berdaya.
Ia berharap keterlibatan mahasiswa dan dosen dalam pelatihan tersebut dapat memperkuat kesiapan pendamping ketika berada di tengah masyarakat terdampak bencana. Harapannya, anak-anak dan orang dewasa yang mengalami dampak gempa tetap mampu melihat bahwa kehidupan belum berakhir, masih ada kesempatan untuk bertumbuh, dan masih ada masa depan yang dapat mereka bangun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....