Pendamping Psikososial Diminta Hadir dan Dengarkan Penyintas, Tidak Menghakimi

  • 19 Agt 2026 20:04 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Menjadi pendamping psikososial bagi penyintas bencana bukan berarti harus menyelesaikan seluruh persoalan yang mereka hadapi. Kehadiran, kemampuan mendengarkan, membantu menciptakan rasa aman, serta menghubungkan penyintas dengan sumber bantuan yang tepat menjadi bagian penting dalam proses pendampingan.

Hal tersebut disampaikan Penanggung Jawab kegiatan, Dr. Norbertus Labu, S.Fil., M.Si., saat memberikan materi kepada dosen dan mahasiswa dalam pelatihan dukungan psikososial di Aula STIPAR Atma Reksa Ende, Rabu, 19 Agustus 2026.

Norbertus mengingatkan peserta bahwa pendamping harus mampu membangun rasa percaya sebelum memberikan bantuan. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah memastikan kondisi penyintas berada dalam keadaan aman.

Pendamping perlu memperhatikan kebutuhan dasar, kondisi kesehatan, potensi ancaman kekerasan, serta keadaan psikologis penyintas sebelum melanjutkan proses pendampingan.

Setelah memastikan keamanan, pendamping perlu hadir secara utuh dan memperkenalkan diri kepada penyintas. Hal tersebut bertujuan agar penyintas mengetahui siapa yang mendampingi, memahami tujuan percakapan, serta merasa memiliki ruang yang aman untuk berbicara.

Menurut Norbertus, ketika penyintas mengalami kepanikan, kecemasan, kebingungan, atau merasa kewalahan, pendamping dapat membantu mereka kembali tenang secara perlahan. Pendamping dapat menggunakan posisi tubuh yang nyaman, membantu penyintas mengenali lingkungan sekitar, serta menerapkan teknik grounding sesuai kondisi.

Proses berikutnya adalah membantu penyintas menemukan kembali dukungan sosial yang dimiliki. Keluarga, sahabat, tetangga, komunitas, tokoh agama, tenaga kesehatan, maupun layanan profesional dapat menjadi bagian dari jaringan dukungan tersebut.

Ia menambahkan, pendamping tidak harus menjadi pihak yang menyelesaikan seluruh masalah penyintas.

“Kita tidak datang untuk menyembuhkan masyarakat dari trauma, kita datang untuk hadir bersama mereka, membantu mereka merasa aman, menghubungkan mereka satu sama lain, dan membangun kembali kemampuan mereka untuk bangkit,” katanya.

Norbertus berharap para mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi mampu membawa sikap empati ketika berhadapan langsung dengan penyintas bencana. Kehadiran relawan diharapkan dapat membuat masyarakat merasa tidak menghadapi masa sulit seorang diri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....