Modul Mulok Budaya Manggarai Disiapkan untuk Perkuat Identitas Generasi Muda
- 19 Jul 2026 20:22 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Muatan Lokal (Mulok) Budaya Manggarai dinilai perlu menjadi fondasi pembentukan karakter peserta didik, bukan sekadar mata pelajaran pelengkap di sekolah. Gagasan tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Tahap II Penyusunan Modul Ajar Muatan Lokal Budaya Manggarai untuk jenjang SD dan SMP yang berlangsung di Aula Setda Kantor Bupati Manggarai Barat, Jumat, 17 Juli 2026.
Kegiatan yang merupakan kolaborasi Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dengan Fakultas Teologi dan Budaya Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng itu bertujuan menyusun modul ajar sebagai pedoman pembelajaran berbasis budaya di satuan pendidikan.
Wakil Bupati Manggarai Barat, Yulianus Weng, mengapresiasi dukungan tim penyusun modul dari Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng serta para guru yang terlibat dalam proses penyusunannya.
Menurutnya, pembelajaran budaya di sekolah merupakan langkah strategis untuk menjaga identitas generasi muda agar tidak tergerus arus globalisasi.
"Kami berharap modul ini benar-benar bermanfaat bagi peserta didik sehingga mereka tetap mengenal dan mencintai budaya Manggarai sebagai bagian dari jati dirinya," ujarnya.
Rektor Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, RD. Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic., mengatakan muatan lokal bukan bertujuan membawa peserta didik kembali ke masa lalu, melainkan menjadi bekal menghadapi masa depan. Menurutnya, akar budaya yang kuat akan membentuk karakter, meningkatkan rasa percaya diri, serta mendorong kreativitas generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi dan persaingan global.
Ia menambahkan, ruang kelas menjadi tempat yang tepat untuk menanamkan pemahaman mengenai identitas budaya sejak dini sehingga nilai-nilai lokal dapat diwariskan kepada generasi penerus.
Dalam sesi diskusi, peserta FGD mengusulkan agar materi seni budaya, seperti musik tradisional dan tari daerah, memperoleh porsi yang lebih besar dalam modul pembelajaran. Kepala SDK Ware Medu, Hipolitus Darmin, menilai selama ini muatan lokal masih diposisikan sebagai mata pelajaran tambahan.
Karena itu, ia mendorong agar Mulok menjadi mata pelajaran yang lebih strategis dengan didukung pelatihan khusus bagi guru sehingga implementasinya di sekolah dapat berjalan lebih optimal.
Menutup kegiatan, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Prof. Dr. Maksimus Regus, menegaskan bahwa penerapan muatan lokal merupakan investasi jangka panjang dalam membangun peradaban. Menurutnya, Mulok memiliki tiga dimensi penting, yakni sosiologis sebagai pembentuk identitas, antropologis sebagai sarana memahami jati diri, serta ekologis sebagai upaya menjaga keberlanjutan kehidupan.
Melalui penyusunan modul ajar tersebut, pendidikan berbasis budaya diharapkan mampu melahirkan generasi yang tetap berakar pada nilai-nilai budaya Manggarai sekaligus memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan perkembangan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....