Tarian Bero Uma Warisan Budaya, Identitas, dan Nilai Kehidupan Masyarakat Adat Nage
- 23 Jun 2026 07:25 WIB
- Ende
Poin Utama
- Tarian Bero Uma tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat adat Nagekeo, tetapi juga merepresentasikan identitas, kebersamaan, serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun
- Martha Weke menjelaskan bahwa setiap gerakan dalam tarian memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat dalam mengolah lahan pertanian hingga masa panen
- Dengan mengenal dan melestarikan Tarian Bero Uma, mereka turut menjaga identitas masyarakat Nagekeo," katanya.
RRI.CO.ID,Nagekeo – Tarian Bero Uma tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat adat Nagekeo, tetapi juga merepresentasikan identitas, kebersamaan, serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun. Hal tersebut disampaikan Ketua Sanggar Seni Sweet Golden, Martha Filomena Weke, S.Pd, dalam program Bincang Budaya, Senin,22 Juni 2026.
Menurut Martha, Tarian Bero Uma lahir dari kehidupan agraris masyarakat Nagekeo yang sangat bergantung pada aktivitas pertanian.Tarian ini menggambarkan semangat gotong royong, rasa syukur, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Tarian Bero Uma bukan sekadar pertunjukan seni. Di dalamnya terdapat pesan tentang kebersamaan, kerja keras, dan penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan leluhur," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa setiap gerakan dalam tarian memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat dalam mengolah lahan pertanian hingga masa panen. Karena itu, keberadaan tarian tersebut menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat adat Nagekeo.
Martha menilai pelestarian Tarian Bero Uma perlu melibatkan berbagai pihak, terutama generasi muda. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan budaya, kegiatan sanggar seni, maupun berbagai festival budaya yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan mencintai warisan leluhur.
Menurutnya, perkembangan zaman tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan tradisi. Sebaliknya, budaya lokal harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.
Generasi muda perlu memahami bahwa budaya adalah jati diri. Dengan mengenal dan melestarikan Tarian Bero Uma, mereka turut menjaga identitas masyarakat Nagekeo," katanya.
Dalam kesempatan itu, Martha juga mengajak masyarakat untuk terus mendukung berbagai kegiatan pelestarian budaya daerah sebagai bagian dari upaya menjaga kekayaan budaya Indonesia. Program Bincang Budaya tersebut menjadi wadah edukasi bagi masyarakat untuk memahami makna dan nilai yang terkandung dalam berbagai warisan budaya lokal, termasuk Tarian Bero Uma.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....