Umat Katolik Diajak Menghayati Kasih yang Membebaskan

  • 16 Jun 2026 21:00 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Ketika seseorang memilih untuk mengasihi, ia tidak lagi menjadi tawanan kebencian, melainkan hidup dalam kebebasan sebagai anak-anak Allah.

RRI.CO.ID, Ende – Umat Katolik diajak menghayati kasih yang membebaskan dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana diajarkan Yesus Kristus dalam Injil Matius 5:43-48. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende, Rudolf Timotheus R. Fahik, S.Fil., dalam program Mimbar Agama Katolik, Selasa, 16 Juni 2026.

Dalam renungannya, Rudolf menjelaskan bahwa kasih merupakan inti ajaran Kristiani yang tidak dibatasi oleh perasaan suka maupun kedekatan tertentu. Yesus mengajarkan umat-Nya untuk mengasihi sesama, termasuk mereka yang dianggap sebagai musuh.

Menurutnya, ajaran tersebut menjadi tantangan sekaligus panggilan bagi setiap orang beriman untuk melepaskan diri dari sikap egois, dendam, dan kebencian yang kerap membelenggu hati manusia. Dengan mengasihi tanpa syarat, seseorang akan mengalami kebebasan batin yang sejati.

“Kasih yang diajarkan Yesus bukan sekadar membalas kebaikan orang lain, tetapi juga mampu mendoakan dan berbuat baik kepada mereka yang menyakiti kita. Inilah kasih yang membebaskan,” ujarnya.

Rudolf menjelaskan, dalam Injil Matius 5:43-48, Yesus menegaskan bahwa kesempurnaan hidup beriman terletak pada kemampuan untuk mencintai sebagaimana Allah mencintai umat-Nya. Allah menerbitkan matahari bagi orang baik maupun orang jahat serta menurunkan hujan bagi orang benar maupun orang yang tidak benar.

Karena itu, umat Katolik diajak meneladani kasih Allah yang universal dan tidak membeda-bedakan. Sikap tersebut dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti membangun persaudaraan, mengampuni kesalahan sesama, serta menghindari sikap diskriminatif dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Rudolf, kasih memiliki kekuatan untuk memulihkan relasi yang retak, menyembuhkan luka batin, dan menciptakan perdamaian. Ketika seseorang memilih untuk mengasihi, ia tidak lagi menjadi tawanan kebencian, melainkan hidup dalam kebebasan sebagai anak-anak Allah.

Melalui tema “Kasih Senantiasa Membebaskan”, umat diharapkan semakin menyadari bahwa kasih bukan hanya sebuah perintah, melainkan juga jalan menuju kehidupan yang penuh damai, sukacita, dan keselamatan.

“Marilah kita terus belajar mengasihi tanpa batas sebagaimana Kristus telah lebih dahulu mengasihi kita. Dengan demikian, kita menjadi tanda kehadiran Allah yang membawa kebebasan dan harapan bagi sesama,” katanya.

Rudolf berharap pesan Injil tersebut dapat menjadi inspirasi bagi umat untuk membangun kehidupan yang lebih harmonis, penuh pengampunan, serta mampu menghadirkan kasih Allah dalam keluarga, lingkungan kerja, dan kehidupan bermasyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....