Pegiat Literasi Ngada Ubah Dapur Jadi Ruang Belajar

  • 21 Mei 2026 11:19 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Keterbatasan fasilitas disiasati dengan merombak dan memperkecil dapur keluarga Mertin Lucia untuk dialihfungsikan menjadi ruang baca anak-desa serta pusat aktivitas belajar.
  • Rumah Baca Isilanga melayani anak-anak dari usia TK hingga SMA dengan fasilitas yang mencakup membaca buku, bermain gim edukatif, dan menonton film pembelajaran lewat laptop sederhana.
  • Awalnya gerakan ini sempat diragukan dan dianggap terlalu idealis oleh warga sekitar. Namun, konsistensi pendampingan jangka panjang berhasil membuktikan dampak positifnya.

RRI.CO.ID, Ngada – Keterbatasan akses buku di Kampung Bomari, Kabupaten Ngada, mendorong seorang pegiat literasi menyulap dapur rumahnya menjadi ruang baca anak desa. Inisiatif sederhana itu berkembang menjadi Rumah Baca Isilanga yang kini membantu anak-anak memperoleh akses belajar lebih layak sejak 2013.

Mertin Lucia memulai gerakan tersebut setelah melihat anak-anak hanya mengenal buku saat berada di sekolah. Kondisi belajar yang minim fasilitas membuat sebagian anak terpaksa membaca di lantai tanpa meja maupun ruang belajar memadai.

Ia kemudian memperkecil dapur keluarganya untuk dijadikan tempat membaca sekaligus ruang aktivitas anak-anak. “Saya merombak dapur keluarga menjadi lebih kecil demi menyediakan tempat bagi anak-anak,” ujar Mertin dalam program Komunitas Bicara Programa 1 Radio Republik Indonesia Ende, Senin, 16 Maret 2026.

Rumah Baca Isilanga kini melayani anak-anak usia taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. Selain membaca buku, anak-anak memanfaatkan tempat tersebut untuk bermain gim edukatif dan menonton film pembelajaran menggunakan laptop sederhana.

Keberadaan rumah baca itu perlahan mengubah pola belajar anak-anak di desa. Ruang yang awalnya hanya sudut rumah keluarga kini menjadi tempat berkumpul sekaligus wadah membangun kepercayaan diri dan kebiasaan belajar bersama.

Mertin mengatakan ketersediaan buku semakin terbantu melalui jaringan komunitas literasi Nusa Tenggara Timur dan donatur pribadi. Dukungan pemerintah desa juga mulai terlihat melalui penyelenggaraan festival literasi budaya tahunan yang melibatkan masyarakat setempat.

Perjalanan membangun budaya membaca tidak selalu berjalan mudah karena pada awalnya gerakan tersebut dianggap terlalu idealis. Namun konsistensi pendampingan kepada anak-anak membuat manfaat Rumah Baca Isilanga mulai dirasakan warga, terutama dalam meningkatkan minat baca dan aktivitas belajar generasi muda desa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....