Taman Baca Ila One Nua Tumbuhkan Literasi Pelosok

  • 13 Agt 2026 13:02 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Taman Baca Ila One Nua di Kampung Detupau, Kabupaten Ende, menjadi ruang literasi yang memberdayakan anak-anak untuk mengenal buku dan mengembangkan kreativitas.
  • Vicharlaka sebagai pendiri dan pegiat sosial menerapkan pendekatan pembelajaran yang mengikuti pola dan dunia anak, bukan memaksakan kegiatan belajar formal.
  • Anak-anak diberi kebebasan memilih buku, bermain, menggambar, bermain catur, membaca dongeng, dan tampil di depan teman-temannya untuk membuat literasi terasa menyenangkan.

RRI.CO.ID, Ende - Gerakan literasi di wilayah pelosok terus digerakkan melalui Taman Baca Ila One Nua di Kampung Detupau, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Pendiri Taman Baca Ila One Nua sekaligus pegiat sosial, Vicharlaka, mengatakan taman baca tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal buku, mengembangkan keberanian, sekaligus menumbuhkan kreativitas.

Dalam Komunitas Bicara RRI Ende, Selasa, 11 Agustus 2026, Vicharlaka menjelaskan pendekatan yang digunakan dalam mendampingi anak adalah mengikuti pola dan dunia mereka, bukan memaksakan kegiatan belajar secara formal. Anak-anak diberi kebebasan memilih buku yang disukai, bermain, menggambar, bermain catur, membaca dongeng, hingga tampil di depan teman-temannya agar kegiatan literasi terasa menyenangkan.

Taman Baca Ila One Nua menyasar anak-anak usia sekolah dasar hingga sekitar 12 tahun yang tinggal di kampung sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Kegiatan taman baca berlangsung tiga kali dalam sepekan, sementara ketika relawan berhalangan hadir, anak-anak tetap diberikan buku untuk dibaca di rumah.

Menurut Vicharlaka, keberadaan taman baca penting karena akses terhadap buku di wilayah pelosok masih terbatas dan sekolah menjadi salah satu sumber utama bahan bacaan bagi anak. Perubahan mulai terlihat, antara lain kemampuan membaca anak yang sebelumnya masih terbata-bata hingga keberanian tampil di depan umum, sementara dukungan masyarakat juga berkembang melalui jejaring komunitas.

Selain buku, jejaring tersebut turut membantu masyarakat memperoleh 81 unit lampu tenaga surya pada 2023, yang kemudian dibagikan kepada warga di dua dusun yang belum terjangkau listrik. Taman baca juga mendapat dukungan sekitar 1.000 buku pada 2024, meski masih menghadapi keterbatasan fasilitas penyimpanan, relawan, akses menuju kampung, serta penerangan untuk kegiatan belajar pada malam hari.

Vicharlaka berharap pemerintah desa, komunitas, pegiat literasi, dan generasi muda ikut menjaga keberlanjutan taman baca di daerah terpencil dengan membangun gerakan sederhana sesuai potensi masing-masing. Ia mengajak anak muda di desa tidak minder dengan keterbatasan, memanfaatkan ruang digital untuk memperkenalkan potensi kampung, serta terus menyalakan literasi agar karya anak-anak desa dapat dikenal lebih luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....