Empat Siswa Syuradikara Raih Beasiswa Jepang China

  • 20 Mei 2026 15:27 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – SMA Swasta Katolik Syuradikara kembali mencatat prestasi internasional dengan mengutus dua siswanya melanjutkan studi ke China melalui program beasiswa penuh tahun 2026. Kedua siswa tersebut akan menempuh pendidikan di Universitas Nantong College of Science and Technology, Provinsi Jiangsu, China.

Kepala SMA Swasta Katolik Syuradikara, Bruder Kristianus Riberu, SVD, menyampaikan hal itu saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu 20 Mei 2026. Ia mengatakan tahun 2026 menjadi momentum pertama sekolah tersebut mengirim siswa untuk belajar di China.

Menurut Bruder Kristianus, sebelumnya dua siswa angkatan ke-70 juga berhasil memperoleh beasiswa ke Universitas Nanzan, Jepang. Kini, Fidelius Sopi Soka dan Gladwin Andrew Wijaya kembali melanjutkan jejak prestasi rekan seangkatan mereka di tingkat internasional.

“Anak-anak berjuang dengan cara mereka sendiri untuk bisa berkuliah di luar negeri. Kali ini Fidel dan Endro mendapat beasiswa ke Nantong, China,” ujarnya.

Ia menjelaskan, program beasiswa tersebut difasilitasi Konsultan Yohandra melalui kerja sama Pengurus Daerah Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) NTT yang dipimpin Theodorus Widodo. Program itu menjaring pelajar dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur.

Menurut Bruder Kristianus, Perhimpunan INTI memiliki misi membuka akses pendidikan internasional bagi anak-anak NTT. Kesempatan itu diharapkan menjadi jalan bagi generasi muda daerah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing global.

Dari delapan siswa Syuradikara yang mendaftar, empat orang dinyatakan lolos seleksi. Namun dua di antaranya memilih mundur karena telah diterima di sekolah kedinasan, sementara Fidel dan Endro tetap melanjutkan persiapan keberangkatan ke China pada awal September mendatang.

Bruder Kristianus mengaku bangga karena dalam satu tahun sekolahnya berhasil mengirim siswa ke Jepang dan China. Kedua siswa itu akan memperoleh fasilitas berupa biaya kuliah gratis, asrama gratis, serta uang saku sebesar 380 Yuan per bulan.

Ia menilai capaian tersebut sejalan dengan semangat sekolah misi yang kini mengalami perubahan arah. Jika dahulu para misionaris datang ke Flores dan NTT, kini Syuradikara justru mengutus generasi muda untuk belajar ke luar negeri sebagai “misionaris awam”.

“Saya berpesan, Santo Yosef Freinademetz dulu diutus ke China dan tetap mengabdi sampai wafat di sana. Pergilah untuk meraih mimpi dan cita-cita kalian,” kata Bruder Kristianus.

Sementara itu, Fidel dan Endro mengaku kuliah di China merupakan impian besar yang akhirnya bisa mereka raih. Meski harus jauh dari keluarga, keduanya bertekad memanfaatkan kesempatan tersebut demi masa depan yang lebih baik.

Endro mengatakan dirinya tertarik mendalami bidang manufacturing technology atau teknologi manufaktur. Bidang itu mencakup penerapan mesin, perangkat lunak, kecerdasan buatan, dan teknologi robotik dalam proses produksi modern.

Fidel menambahkan, saat ini mereka tengah mengikuti pendampingan Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris sebagai persiapan studi. Menurutnya, kemampuan bahasa menjadi modal penting untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial dan budaya di China.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....