FAO dan UN Women Luncurkan Kampanye Tahun Petani Perempuan di Manggarai Barat
- 07 Mei 2026 21:59 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) bersama UN Women resmi meluncurkan kampanye Tahun Internasional Petani Perempuan 2026 di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Kamis 7 Mei 2026. Program ini bertujuan memperkuat ketahanan iklim, ketahanan pangan, serta kepemimpinan perempuan dalam sektor pertanian.
Peluncuran kampanye ditandai dengan pelatihan dan dialog kebijakan yang melibatkan petani perempuan untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam pertanian berkelanjutan, literasi keuangan, pengolahan hasil pertanian, hingga pemasaran bernilai tambah. Inisiatif ini dimulai di Manggarai Barat dan akan diperluas ke berbagai wilayah lain di Indonesia sepanjang tahun.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 2026 sebagai Tahun Internasional Petani Perempuan guna menyoroti kesenjangan gender yang masih dihadapi perempuan di sektor pertanian, sekaligus mendorong reformasi kebijakan dan investasi yang lebih inklusif.
Berdasarkan data FAO, perempuan mencakup 41 persen tenaga kerja global di sektor pangan dan pertanian. Namun, petani perempuan masih menghadapi berbagai hambatan, mulai dari keterbatasan akses terhadap lahan, pelatihan, hingga layanan keuangan. Di Indonesia, perempuan menyumbang sekitar 38 persen tenaga kerja pertanian atau sekitar 14,81 juta orang, tetapi masih menghadapi tantangan serupa, terutama dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
UN Women Indonesia Representative and Liaison to ASEAN, Ulziisuren Jamsran, menegaskan bahwa pemberdayaan petani perempuan merupakan langkah strategis untuk memperkuat komunitas.
“Memberdayakan petani perempuan berarti memberdayakan komunitas. Pengetahuan, pengalaman, dan aksi berbasis komunitas yang mereka lakukan sangat penting dalam mengatasi perubahan iklim dan ketahanan pangan,” ujarnya dalam keterangan, Kamis 7 Mei 2026.
Sementara itu, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, menekankan bahwa perubahan iklim memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi perempuan.
“Ketika kita menutup kesenjangan gender dan berinvestasi pada perempuan, semua pihak akan merasakan manfaatnya,” katanya.
Adapun di Manggarai Barat, kegiatan ini dilaksanakan bersama Yayasan Komodo Indonesia Lestari (YAKINES), dengan melibatkan 25 petani perempuan dalam pelatihan pertanian cerdas iklim. Dialog kebijakan juga dilakukan bersama pemerintah daerah guna mendorong regulasi yang mendukung sistem pangan berkelanjutan dan kesetaraan gender.
Ketua Aliansi Perempuan Indonesia Mandiri (APIR) Kabupaten Manggarai Barat, Siti Sadyatun, menyampaikan pentingnya akses informasi dan pengetahuan praktis bagi perempuan dalam menghadapi perubahan iklim.
“Sebagai perempuan, kami sangat membutuhkan informasi dan pengetahuan praktis tentang langkah konkret untuk memitigasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim,” ujarnya.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif EmPower yang dijalankan UN Women bersama UNEP dengan dukungan sejumlah negara mitra, termasuk Swedia, Jerman, Swiss, dan Selandia Baru, untuk memperkuat ketahanan iklim serta kepemimpinan perempuan di Nusa Tenggara Timur.
Melalui kampanye ini, FAO dan UN Women berharap petani perempuan semakin diakui sebagai aktor kunci dalam sistem pangan, pembangunan pedesaan, serta upaya global menghadapi perubahan iklim.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....