Dinsos Manggarai Kirim Dua Penyandang Tuna Netra untuk Ikut Pendidikan di Kupang

  • 06 Mei 2026 21:06 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai – Sebagai bentuk nyata keberpihakan terhadap kelompok rentan, Pemerintah Kabupaten Manggarai melalui Dinas Sosial resmi memberangkatkan dua penyandang disabilitas tuna netra untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan kemandirian di Kupang selama kurang lebih empat tahun.

Langkah ini menjadi komitmen inklusif pemerintah dalam menjamin hak penyandang disabilitas netra, dengan fokus utama pada peningkatan keterampilan dan kemandirian sebagai modal dasar mereka di masa depan.

Kedua peserta tersebut adalah Claudius Gonsianus Harun dari Kelurahan Compang Carep, Kecamatan Langke Rembong, dan Libertus Tamin dari Desa Pinggang, Kecamatan Cibal. Sebelum bertolak menuju Kupang melalui Bandara Soa, Bajawa, keduanya didampingi orang tua dan keluarga berkumpul di Kantor Dinas Sosial Kabupaten Manggarai untuk mengikuti prosesi pelepasan, Rabu, 6 Mei 2026.

Dalam kesempatan tersebut Kepala Dinas Sosial Kabupaten Manggarai, Benyamin San, menyampaikan bahwa pemerintah daerah sangat mengapresiasi terlaksananya program ini sebagai wujud nyata kepedulian terhadap kelompok disabilitas netra. "Pemkab Manggarai tentunya berterima kasih sekali kepada UPTD Kesejahteraan Sosial Tuna Netra. Ini juga kerja-kerja kita di Dinas Sosial untuk keberpihakan kita terhadap kelompok-kelompok penyandang disabilitas tuna netra," kata Benyamin.

Namun, Benyamin mengakui bahwa berdasarkan data, masih banyak penyandang disabilitas di Kabupaten Manggarai yang hingga kini belum terjangkau oleh program pendidikan serupa. Ditambahkannya, program ini juga berdasarkan usulan dari Dinas Sosial Kabupaten Manggarai yang akhirnya dapat diakomodir pada tahun ini oleh UPTD Kesejahteraan Sosial Tuna Netra.

Ia berharap program tersebut dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang agar semakin banyak penyandang disabilitas memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan, sehingga mampu berkembang, mandiri, dan berkarya sesuai potensi yang dimiliki. "Dengan ikuti pendidikan ini, harapannya supaya mereka bisa mandiri, bisa mengurus diri sendiri dan sesuai dengan kemampuan dan bakat mereka selama dididik di panti," ujarnya.

Kepada kedua peserta tersebut, Benyamin juga berpesan agar senantiasa disiplin mematuhi aturan di panti serta menjaga pembawaan diri dengan baik selama masa pendidikan. "Saya percaya teman teman ini siap untuk mengikuti pendidikan," ungkapnya

Ia turut meminta dukungan doa dan kepercayaan penuh dari orang tua kepada pihak UPTD yang akan membimbing anak-anak mereka. "Pastikan bahwa apapun aturan yang ada di UPTD mohon kiranya dipatuhi, percaya bahwa pasti bisa lebih baik dari sekarang," ucapnya .

Perwakilan UPTD Kesejahteraan Sosial Tuna Netra Dinas Sosial Provinsi NTT, Elisabet Mbeo, mengungkapkan bahwa tujuan utama dari rangkaian pelatihan ini adalah membekali peserta agar mampu mandiri dan tidak lagi bergantung pada orang lain. "Tujuannya belajar untuk menolong katong pu hidup dan tidak bergantung kepada orang lain," kata Elis.

Elis menjelaskan bahwa para peserta akan menjalani beberapa tahapan pembinaan yang dimulai dengan kelas normalisasi yang mencakup pelatihan kemandirian dasar seperti memasak dan mencuci, kemudian orientasi mobilitas, hingga literasi huruf braille guna memastikan peserta memiliki kemampuan membaca dan menulis yang mumpuni.

Setelah melewati kelas normalisasi, para peserta akan diarahkan ke kelas keterampilan berdasarkan minat dan bakat mereka, mulai dari seni musik, keterampilan pijat, hingga pengolahan ban bekas menjadi produk kreatif seperti kursi. Pihak UPTD juga tengah mengembangkan program keterampilan di bidang peternakan ayam petelur dan pertanian sayuran guna memperkaya keahlian peserta.

Nantinya, setelah lulus, para peserta akan menerima sertifikat keahlian sebagai bekal untuk berwirausaha di masa depan. Program ini menyasar seluruh kabupaten dan kota di NTT ini memiliki kapasitas tampung sebanyak 50 orang.

Seluruh biaya pendidikan serta biaya hidup selama di panti ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Provinsi NTT tanpa membebani pihak keluarga. "Semua biaya ditanggung oleh Pemerintah Provinsi NTT," katanya.

Selain pembekalan keterampilan, Elis menegaskan pemerintah juga tengah mengupayakan adanya dana stimulan bagi para lulusan seperti tahun-tahun sebelumnya untuk dijadikan sebagai bantuan modal usaha. "Saya tidak janji ya, tapi kalau tahun-tahun sebelumnya itu ada. Kita harapkan setelah mereka tamat, pemerintah menyiapkan mereka untuk modal usaha," ungkapnya.

Melalui program pendidikan ini, para peserta diharapkan tidak hanya mampu mengurus diri sendiri, tetapi juga bertransformasi menjadi pribadi yang produktif dan mandiri secara ekonomi saat kembali ke tengah masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....