Gandeng BRIN, Pemkab Manggarai Perkuat Pengelolaan Sampah secara Terpadu

  • 06 Mei 2026 19:27 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkuler, terus memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Manggarai dalam menangani sampah khususnya di wilayah Ruteng. Upaya ini dilakukan melalui pendekatan Group Model Building (GMB) guna mengembangkan desa sirkular sebagai langkah strategis mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Forum ini digelar Aula Bapperida Manggarai yang dihadiri berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan Dinas Lingkungan Hidup, pihak kecamatan Langke Rembong, Kelurahan Karot, LSM NGO Sejahtera, hingga para pengepul dan pemulung, Selasa 5 Mei 2026. Dalam forum tersebut, terungkap sejumlah persoalan krusial di lapangan, mulai dari rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah hingga pola pikir linear yang hanya berorientasi pada pembuangan akhir ke TPA Ncolang tanpa pengelolaan lebih lanjut.

Selain kendala perilaku, masalah pendanaan dan keterbatasan armada pengangkut yang kondisinya memprihatinkan juga menjadi hambatan utama, mengingat volume produksi sampah saat ini telah melampaui kapasitas angkut yang tersedia.

Peneliti Muda BRIN, Samuel Fery Purba kepada RRI menjelaskan, riset mengenai permodelan desa sirkular ini bertujuan untuk mengubah cara pandang terhadap sampah. "Kondisi sampah di Manggarai ini masih belum terpola dengan baik, karena di sini hanya memikirkan udah yang linear aja gitu, hanya memikirkan buang sampah selesai di TPA," kata Fery.

Menurutnya, tumpukan sampah terutama sampah organik yang tidak dikelola, sangat berbahaya karena menghasilkan gas metana dan karbondioksida yang memicu pemanasan global bahkan berisiko menimbulkan ledakan akibat akumulasi gas di dalam tanah. "Misalnya air samph organik itu nanti akan muncul gas metana bukan hanya gas metana dari karbondioksidanya dan sebagainya itu gas-gasnya banyak yang berbahaya," ujarnya.

Melalui riset ini, BRIN akan menyusun rekomendasi kebijakan terkait pembuatan permodelan desa sirkulasi di TPA Ncolang sebagai sampel awal, agar aktivitas di lokasi tersebut tidak hanya menjadi tempat pembuangan, tetapi mampu menciptakan ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat, pemulung maupun pengepul.

Selain itu, kerja sama ini juga melibatkan Pusat Riset Teknologi untuk menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan menghasilkan nilai ekonomi atau "cuan". "Nanti kami juga akan bekerja sama Pusat Riset Teknologi yang berkaitan dengan bagaimana pengelolaan sampah yang maju, yang terdepan supaya sampah ini dikelola dan menghasilkan cuan bisa menghasilkan ekonomi sirkular di Manggarai," ucapnya.

Fery mendorong masyarakat untuk membangun budaya memilah sampah sejak dini mulai dari tingkat rumah tangga. Dengan memisahkan sampah organik, anorganik—seperti kertas dan plastik—hingga limbah elektronik, beban kerja petugas kebersihan dan pemulung pun menjadi lebih ringan.

Sementara itu, Kepala Bapperida Manggarai, Livens Turuk, mengapresiasi inovasi ini sebagai contoh perbaikan mentalitas masyarakat yang selama ini cenderung membuang sampah dalam keadaan gelondongan.

Livens menegaskan pentingnya inovasi hasil riset sebagai acun utama dalam tata kelola sampah. Langkah ini bertujuan agar strategi lapangan tidak lagi mengandalkan asumsi, melainkan berorientasi pada metode ilmiah yang akurat.

Melalui kebijakan yang berbasis data, ia berharap adanya perubahan perilaku masyarakat serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan lembaga riset guna mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berdaya guna.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Manggarai, Antonius Hani, menyambut baik kolaborasi ini. Ia menegaskan bahwa hasil penelitian BRIN akan dijadikan dokumen perencanaan strategis untuk memperkuat tata kelola sampah dari hulu ke hilir berbasis prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). "Pada prinsipnya dokumen ini, menjadi kekuatan baru bagi kami sehingga proses pengolahan sampah dari hulu sampai hilir itu berjalan dengan baik sesuai dengan program pemerintah yaitu tiga R, Reduse, Reus dan Recycle," ungkapnya.

Menurut Antonius, para pemulung dan pengepul kini mendapatkan wawasan baru mengenai teknik pemilahan sampah yang benar, sehingga sampah yang dikelola memiliki nilai ekonomis lebih tinggi untuk menopang kebutuhan rumah tangga. Sementara dari sisi lingkungan, kondisi wilayah akan menjadi lebih asri dan tertata ketika pemilahan dilakukan sesuai kebutuhan pabrik maupun bahan baku kerajinan.

Selain itu, para pemulung yang hadir dibekali materi mengenai standar kesehatan kerja. Hal ini penting agar mereka tetap terlindungi dari risiko kesehatan saat melakukan aktivitas pemilahan di lapangan. "Dan dipastikan hasil riset ini akan mengurangi produksi sampah yang akan dibuang ke TPA, karena apa sampahnya sudah terpilah dan pengangkutannya juga ke TPA lebih banyak residunya," ujarnya.

Melalui riset ini, pengelolaan sampah di Kabupaten Manggarai diharapkan tidak hanya teratasi secara instan, tetapi juga pengelolaan sampah yang bertransformasi ke arah yang lebih sistematis dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....