Livens Dorong Tujuh Kecamatan Kembangkan Kopi Berbasis Kualitas dan Hilirisasi

  • 29 Apr 2026 20:47 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai — Pemerintah Kabupaten Manggarai melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) mulai memperkuat strategi pengembangan sektor perkebunan kopi secara komprehensif.

Kepala Bapperida Kabupaten Manggarai, Livinus Vitalis Livens Turuk, menekankan bahwa arah pengembangan kopi kini tidak lagi hanya terpaku pada kuantitas hasil produksi, melainkan bergeser pada peningkatan kualitas biji kopi serta penguatan sistem tata kelola yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Langkah strategis ini disampaikan dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak 28 hingga 30 April 2026. Agenda tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari gabungan kelompok tani (Gapoktan), kelompok tani calon penerima manfaat, jajaran kepala desa dan lurah, tenaga penyuluh, pendamping pertanian, hingga para pelaku usaha kopi di wilayah tersebut. Saat ini, ketujuh kecamatan tersebut telah memulai tahapan sosialisasi sebagai langkah awal implementasi nyata di tingkat lapangan.

Pengembangan kawasan ini difokuskan pada tujuh wilayah strategis yang meliputi Kecamatan Langke Rembong, Wae Ri’i, Lelak, Satarmese, Satarmese Utara, Ruteng, dan Cibal. Fokus utama pada wilayah-wilayah ini adalah optimalisasi rantai nilai agar manfaat ekonomi dari komoditas kopi dapat dirasakan secara maksimal oleh masyarakat lokal.

Livens menjelaskan bahwa sosialisasi Program Pengembangan Kawasan dan Rehabilitasi Kopi Tahun 2026 menjadi fondasi krusial untuk memastikan pelaksanaan program berjalan secara inklusif. Melalui pendekatan ini, pemerintah berupaya menyerap aspirasi langsung dari akar rumput, sehingga perencanaan program benar-benar selaras dengan kebutuhan petani di lapangan.

Keterlibatan aktif masyarakat sejak tahap awal dinilai sebagai kunci utama dalam menjamin efektivitas dan keberlanjutan program di masa depan. “Sosialisasi ini menjadi ruang untuk menyerap aspirasi. Kami ingin perencanaan hingga pelaksanaan program benar-benar melibatkan petani, pemerintah desa, serta pelaku usaha,” kata Livens.

Menurutnya, Pemerintah daerah terus optimis bahwa pendekatan kolaboratif ini akan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Sinergi yang kuat antara petani, penyuluh, pemerintah desa, dan pelaku pasar dianggap sebagai elemen paling vital dalam keberhasilan program.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....