Terumbu Karang TN Komodo Rentan, Aktivitas Wisata Perlu Pengendalian
- 20 Apr 2026 19:05 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Meningkatnya aktivitas wisata bahari di kawasan Taman Nasional Komodo membawa konsekuensi serius terhadap kondisi ekosistem pesisir, khususnya terumbu karang yang kini dinilai perlu mendapat perhatian kedepan.
Devisi Marine, Ande Kefi, Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Komodo, menyampaikan bahwa ekosistem pesisir di Taman Nasional Komodo, mulai dari mangrove, lamun hingga terumbu karang, memiliki peran penting sebagai habitat berbagai biota laut yang harus dijaga secara berkelanjutan.
“Terumbu karang merupakan rumah bagi berbagai biota laut. Tapi kondisinya saat ini memang membutuhkan perhatian karena adanya tekanan dari aktivitas manusia yang cukup tinggi,” ujarnya saat ditemui, Senin 20 April 2026.
Berdasarkan data pemantauan, tutupan karang keras di kawasan Taman Nasional Komodo (hasil kajian 2024) yang dipetakan berdasarkan claster TN Komodo berada di angka rata-rata 29,13 % dalam periode 2019 hingga 2022. Angka ini masuk kategori sedang, namun menunjukkan bahwa kondisi ekosistem belum optimal.
Selain itu, struktur karang di kawasan ini didominasi jenis Acropora bercabang, dengan rata-rata mencapai 27 %. Jenis karang ini dikenal memiliki kerentanan tinggi terhadap aktifitas fisik.
“Karang bercabang seperti Acropora sangat mudah patah. Aktivitas seperti penyelaman, snorkeling, bahkan sentuhan fisik kecil saja bisa berdampak,” ucap Ande.
Ia juga mengatakan, tekanan terhadap terumbu karang tidak hanya berasal dari aktivitas wisata saat ini, tetapi juga dipengaruhi oleh praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan di masa lalu.
“Kerusakan yang terjadi itu akumulatif. Ada dampak dari aktivitas lama seperti penggunaan alat tangkap yang merusak, ditambah sekarang dengan meningkatnya aktivitas wisata,” katanya.
Untuk itu, menurut Ande, pengelolaan aktivitas wisata menjadi kunci penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut di kawasan TN Komodo.
“Pengaturan aktivitas wisata sangat penting, bukan hanya untuk memperbaiki kondisi yang sudah ada, tetapi juga untuk mencegah kerusakan yang lebih besar ke depan,” tegasnya.
Sebagai bagian dari upaya pemulihan, Balai Taman Nasional Komodo telah melakukan rehabilitasi terumbu karang sejak 2019 di tujuh lokasi dengan total luas mencapai 0,135 hektare. Program ini juga melibatkan masyarakat setempat agar turut menjaga ekosistem pesisir.
Namun demikian, upaya rehabilitasi di laut masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dari sisi pembiayaan yang relatif tinggi dibandingkan dengan rehabilitasi di darat.
Dengan kondisi tersebut, perlindungan ekosistem pesisir di Taman Nasional Komodo dinilai tidak hanya bergantung pada upaya rehabilitasi, tetapi juga pada kesadaran bersama untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan, termasuk melalui pengelolaan aktivitas wisata yang lebih bijak dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....