Tekan Stunting di NTT, LLDIKTI Wilayah XV Gencarkan KKN Tematik

  • 01 Apr 2026 13:44 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Denpasar – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XV menggencarkan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik GENTASKIN (Gerakan NTT Tuntas Stunting dan Kemiskinan Ekstrem). Langkah kolaboratif ini dalam upaya mempercepat penanganan stunting dan pengentasan kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur.

Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Adrianus Amheka, menjelaskan GENTASKIN merupakan tindak lanjut dari program KPT Kosabangsa yang menitikberatkan pada kolaborasi lintas sektor.

“Program ini memobilisasi sumber daya perguruan tinggi untuk melakukan intervensi yang terfokus, berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kolaboratif bersama pemerintah daerah dan masyarakat,” ujarnya dalam kegiatan evaluasi layanan pendidikan tinggi di Kantor LLDIKTI Wilayah XV, Senin, 30 Maret 2026.

Pada 2025, program ini telah dilaksanakan di 25 desa dengan total 102 kegiatan. Sebanyak 60 kegiatan atau sekitar 59 persen difokuskan pada penanganan stunting, sementara 42 kegiatan atau 41 persen diarahkan pada pengentasan kemiskinan ekstrem.

Mahasiswa yang terlibat tidak hanya melakukan intervensi kesehatan, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat terkait gizi seimbang dan pemanfaatan pangan lokal bergizi, termasuk pengembangan kebun gizi keluarga. Di bidang pendidikan, program ini turut mendorong pengembangan potensi non-akademik masyarakat, khususnya anak-anak di desa.

Berbagai kegiatan seperti pelatihan keterampilan, sosialisasi pentingnya pendidikan, hingga aktivitas olahraga akan digelar untuk membantu anak-anak menemukan minat dan bakat mereka. Prof. Adrianus menambahkan, pada 2026 program KKN Tematik GENTASKIN akan diperluas dengan cakupan yang lebih besar.

Sebanyak 100 desa prioritas di 13 kabupaten di NTT menjadi target pelaksanaan program tersebut. “Sekitar 2.000 mahasiswa dari berbagai program studi akan dilibatkan sebagai agen perubahan di desa, dengan pendekatan multidisiplin yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah,” katanya.

Setiap desa akan didampingi oleh tim yang terdiri dari 15 mahasiswa dan satu dosen pembimbing lapangan (DPL) yang juga berperan dalam kegiatan riset serta hilirisasi produk inovasi. Ia menegaskan, program ini menjadi bagian dari upaya besar dalam percepatan penurunan stunting dan pengentasan kemiskinan ekstrem melalui intervensi berbasis bukti dan teknologi tepat guna.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar di kampus, tetapi juga hadir di tengah masyarakat sebagai solusi nyata bagi persoalan pembangunan di desa,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....