Jalan Rusak, Warga di Sikka Terpaksa Gotong Jenazah Sejauh Empat Kilometer

  • 30 Mar 2026 07:33 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Sika – Akses jalan yang buruk di pedalaman Kabupaten Sikka kembali menorehkan kisah pilu bagi warganya. Sekitar 50 warga Wolowajo, Dusun Nati, Desa Rejo, terpaksa harus bergotong royong mengusung peti jenazah sejauh Empat kilometer, Sabtu 28 Maret 2026 siang.

Peristiwa itu bermula ketika jenazah dibawa menggunakan ambulans dari RSUD TC Hillers Maumere. Perjalanan awal berlangsung lancar hingga kendaraan tiba di Desa Wolodhesa, Kecamatan Mego, sekitar pukul 14.00 Wita.

Namun, kondisi jalan yang rusak parah memaksa ambulans berhenti. Jalan tanah yang dipenuhi bebatuan dan tanjakan curam membuat kendaraan roda empat tidak dapat melanjutkan perjalanan.

Rumah duka di Wolowajo, Dusun Nati, Desa Rejo, masih berjarak sekitar empat kilometer dari titik berhenti ambulans. Tanpa alternatif lain, warga secara bergantian memikul peti jenazah melewati medan berat tersebut.

Perjalanan penuh duka itu memakan waktu hingga tiga jam. Warga harus menempuh jalur menanjak dengan kondisi jalan yang licin dan tidak rata.

Salah seorang keluarga berduka, Gian Raja, mengaku sedih dengan kenyataan tersebut. Ia menyebut kondisi ini mencerminkan keterisolasian wilayah pedalaman yang seolah terabaikan.

Menurutnya, ruas jalan sepanjang kurang lebih tujuh kilometer itu menjadi jalur vital yang menghubungkan Desa Wolodhesa di Kecamatan Mego, Desa Rejo di Kecamatan Paga, serta Desa Poma dan Desa Tuwa di Kecamatan Tana Wawo. Namun hingga kini, kondisi jalan tersebut belum mendapatkan perhatian serius.

Gian Raja menuturkan, peristiwa menggotong jenazah bukanlah kejadian pertama. Warga bahkan kerap menggotong orang sakit hingga ibu hamil yang akhirnya melahirkan di tengah perjalanan karena keterbatasan akses.

Ruas jalan tersebut diketahui dibuka sejak tahun 2018. Meski demikian, kunjungan pejabat ke wilayah itu masih sangat terbatas dan belum berdampak pada perbaikan infrastruktur.

Selain akses jalan, warga di Dusun Nati, Dusun Tonganang, dan Dusun Lokaroka juga menghadapi persoalan minimnya penerangan listrik. Kondisi ini semakin memperkuat kesan keterisolasian wilayah pedalaman di tiga kecamatan tersebut.

Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat turun langsung melihat kondisi di lapangan. Mereka meminta perhatian serius, khususnya dalam pembangunan jalan sebagai urat nadi kehidupan warga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....