Unika Ruteng Bedah Buku Karya Bonefasius Rampung
- 17 Mar 2026 20:49 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai - Suasana akademik yang hidup terasa di Aula GUT Lantai 5 Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, saat Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan menggelar bedah buku Fatamorgana Bahasa Indonesia Jilid 3, Selasa, 17 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam memperkuat tradisi literasi sekaligus mendorong budaya diskusi ilmiah di kalangan civitas akademika.
Karya tulis Bonefasius Rampung dalam forum tersebut dikupas secara mendalam oleh Antonius Nesi melalui dialog yang berlangsung dinamis dan interaktif, melibatkan partisipasi aktif para peserta.
Kepala Unit Perpustakaan dan Laboratorium, Yuliana Suryati, saat membuka kegiatan menegaskan komitmen perpustakaan untuk terus menghadirkan program yang inovatif. Ia menilai perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku, tetapi juga sebagai ruang bertemunya gagasan, pengetahuan, dan inspirasi.
Menurutnya, bedah buku merupakan salah satu program strategis untuk meningkatkan mutu layanan perpustakaan, sekaligus mendorong penguatan kapasitas intelektual mahasiswa.“Perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, tetapi juga ruang bertemunya gagasan, pengetahuan, dan inspirasi,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk tidak sekadar membaca, tetapi juga memahami secara mendalam isi dan konteks pemikiran penulis. Forum tersebut menjadi ruang refleksi kritis yang membantu mahasiswa membangun pola pikir analitis dan sistematis.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan bedah buku menjadi salah satu program strategis yang dirancang untuk meningkatkan mutu layanan perpustakaan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Melalui kegiatan ini, penyelenggara mengajak peserta untuk melampaui aktivitas membaca biasa. Peserta tidak hanya memahami isi buku secara tekstual, tetapi juga menelusuri latar belakang pemikiran penulis serta pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca.
Yuliana menegaskan bahwa forum bedah buku membuka ruang refleksi kritis yang membantu mahasiswa membangun cara berpikir yang lebih analitis dan sistematis.
“Kami ingin pembaca tidak hanya membaca, tetapi juga memahami secara mendalam gagasan yang dibangun oleh penulis,” katanya.
Kegiatan ini menargetkan tumbuhnya budaya literasi yang kuat di kalangan mahasiswa. Selain memperluas wawasan, kegiatan ini juga mendorong mahasiswa untuk lebih aktif berdiskusi serta mengasah kemampuan analisis dan berpikir kritis.
Penyelenggara juga berharap kegiatan ini berdampak langsung pada peningkatan minat kunjungan mahasiswa ke perpustakaan sebagai pusat sumber belajar.
Lebih lanjut, ia menyebut, UPT Perpustakaan merencanakan kegiatan bedah buku sebagai agenda tahunan dengan dukungan institusi, termasuk pihak yayasan melalui wakil rektor terkait. Langkah ini menunjukkan keseriusan kampus dalam membangun ekosistem akademik yang dinamis dan berkelanjutan.
Yuliana menegaskan bahwa kegiatan ini tidak boleh berhenti pada aspek seremonial, tetapi harus berkembang menjadi ruang dialog produktif yang mempertemukan penulis, narasumber, dan pembaca dalam satu forum ilmiah. “Kegiatan ini harus menjadi wadah dialog yang produktif bagi seluruh civitas akademika, bukan sekadar formalitas,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....