Dekan FKIP Unika Ruteng Bekali 576 Mahasiswa Magang, Perkuat Kompetensi Calon Guru
- 23 Jul 2026 22:31 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai – Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng, Yohanes Mariano Dangku, membekali 576 mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tingkat III semester V yang akan mengikuti program magang di Gedung Utama Timur (GUT) Lantai 5, Rabu 22 Juli 2026.
Program magang akan berlangsung pada 27 Juli hingga 23 September 2026. Para mahasiswa akan ditempatkan di 62 sekolah dasar di Kabupaten Manggarai, 55 sekolah di Manggarai Timur dan 27 sekolah di Manggarai Barat.
Dalam sambutan pembuka, Dekan FKIP yang akrab disapa Romo Ino menegaskan bahwa program magang menjadi momentum penting bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) untuk membentuk jati diri sebagai guru profesional yang mampu menjawab tantangan pendidikan abad ke-21 tanpa meninggalkan akar budaya Manggarai.
Menurutnya, program magang adalah jembatan yang menghubungkan teori dengan praktik.
“Jadikan setiap hari selama magang sebagai kesempatan belajar, bukan sebagai waktu untuk bebas dari tanggung jawab akademik,” tegas romo INo.
Romo Ino juga mengibaratkan pembekalan sebagai awal sebuah pelayaran. Bahwa menurutnya, setiap perjalanan membutuhkan kompas agar tetap berada pada arah yang benar. Kompas itu, katanya, ialah tema pembekalan tahun ini, “Menjadi Guru SD Abad ke-21: Guru Berkarakter Berbasis Budaya Manggarai.”
Ia menjelaskan bahwa magang bukan sekadar memenuhi tuntutan kurikulum, melainkan proses pembelajaran nyata yang menghubungkan teori yang dipelajari di bangku kuliah dengan praktik pendidikan di sekolah.
Program magang PGSD, lanjutnya, memiliki empat sasaran utama, yakni membentuk guru yang kompeten secara pedagogik, profesional, berkarakter, dan berakar pada budaya lokal.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa akan menjalani tiga tahapan selama magang. Mereka memulai dengan observasi terhadap lingkungan sekolah, aktivitas guru, dan karakteristik peserta didik. Setelah itu mereka mengikuti praktik terbimbing bersama dosen pembimbing lapangan dan guru pamong, sebelum akhirnya melaksanakan praktik mengajar secara mandiri dengan penuh tanggung jawab.
“Magang menguji mental, membentuk identitas guru, mengasah kompetensi profesional, sekaligus memberikan pengalaman nyata yang akan menjadi portofolio penting ketika kalian memasuki dunia kerja,” ujarnya.
Lebih lanjut, Romo Ino mengingatkan bahwa guru masa kini menghadapi peserta didik yang tumbuh bersama perkembangan teknologi dan arus informasi yang sangat cepat. Karena itu, peran guru telah berubah dari sekadar penyampai ilmu menjadi perancang pembelajaran, fasilitator, dan pembentuk karakter.
Ia menekankan pentingnya penguasaan kompetensi 4C+H, yakni Critical Thinking, Creative Thinking, Collaborative, Communicative, dan Heart. Menurutnya, guru harus mampu melatih peserta didik berpikir kritis, menciptakan ruang bagi kreativitas, membangun budaya kolaborasi, mengembangkan kemampuan komunikasi, sekaligus menanamkan empati, kejujuran, tanggung jawab, dan cinta kepada Tuhan serta sesama.
“Setiap RPP dan modul ajar harus menyentuh 4C. Namun semua itu harus ditopang oleh Heart, karena tanpa karakter, kepintaran justru bisa menjadi sesuatu yang berbahaya,” katanya.
Selain kompetensi abad ke-21, Dekan FKIP mengajak mahasiswa menjadikan Pancawatak sebagai fondasi pendidikan yang berakar pada budaya Manggarai.
Ia menjelaskan bahwa lima nilai dalam Pancawatak, yakni Weri (menanam), Waeng (menyirami), We'ang (membersihkan), Wua (berbuah), dan Wali Kamping Jari (bersyukur), mencerminkan filosofi pendidikan masyarakat Manggarai yang tetap relevan dengan kebutuhan pendidikan modern.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut tidak bertentangan dengan konsep pendidikan abad ke-21, tetapi justru saling melengkapi.
"Guru berbasis budaya Manggarai bukan guru yang kuno. Justru guru yang berakar pada budaya memiliki identitas yang kuat dan lebih siap menghadapi tantangan abad ke-21," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa peserta didik akan lebih mudah memahami pembelajaran ketika guru memanfaatkan konteks budaya lokal, menghargai bahasa daerah, dan menghadirkan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan mereka.
Menutup sambutannya, Romo Ino mengajak seluruh peserta pembekalan menjadikan masa magang sebagai ruang pembentukan diri, bukan sekadar kewajiban akademik.
Ia mengingatkan mahasiswa agar memegang tiga prinsip utama selama menjalankan magang: menjadikan magang sebagai ladang pembelajaran, menghidupi kompetensi 4C+H dalam setiap proses pembelajaran, dan menjadikan Pancawatak sebagai jiwa pengabdian sebagai calon guru.
“Magang adalah ladang kita. 4C+H adalah alat kita. Pancawatak adalah jiwa kita. Saya berharap kalian menjalani seluruh proses ini dengan komitmen, kerendahan hati, dan semangat belajar sehingga kelak menjadi guru yang profesional, berkarakter, dan mampu membawa perubahan bagi dunia pendidikan,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....