Uskup Ende: Unum Unus Una Pelukan Semesta
- 12 Feb 2026 15:12 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Larantuka – Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, membedah makna moto “Unum, Unus, Una” dalam misa pentahbisan Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Rabu (11/2/2026). Moto tersebut disebut sebagai simbol pelukan semesta yang melampaui batas-batas manusia.
Dalam khutbahnya, Mgr. Paulus menegaskan tiga bentuk kata Latin itu bukan sekadar struktur tata bahasa. Menurutnya, pilihan tiga genus menjadi tanda misi pelayanan yang menjangkau semua tanpa kecuali.
“Unum, Unus, Una bukan soal gramatika, tetapi tanda bahwa perutusan gembala harus merangkul semua sisi kemanusiaan,” kata Mgr. Paulus Budi Kleden.
Ia menyebut moto tersebut menggambarkan panggilan gereja yang menyentuh seluruh sisi kehidupan umat di tanah Lamaholot. Tidak ada kelompok, identitas, atau situasi hidup yang berada di luar lingkaran kasih.
Pada pilar Unum Corpus, Mgr. Paulus menjelaskan bahwa menjadi satu tubuh tidak identik dengan menyeragamkan peran. Kesatuan, menurutnya, justru lahir dari keberagaman yang saling menopang dan menguatkan.
Kesatuan sejati, lanjutnya, muncul saat gereja berani melihat dari sudut pandang para korban dan mereka yang tersisih. Sikap merendahkan hati, empati, dan kesediaan mengampuni menjadi fondasi persatuan umat.
Dalam bagian Unus Spiritus, ia menekankan pentingnya keberanian keluar dari zona nyaman internal gereja. Menurutnya, gereja harus hadir nyata di tengah persoalan sosial dan ekonomi umat.
“Gereja tidak boleh diam, tetapi menjadi pelindung petani dan nelayan dari jeratan tengkulak, melawan praktik lintah darat digital, perdagangan manusia, dan perusakan alam,” ujarnya.
Ia menambahkan, persoalan sosial bukan wilayah asing bagi rohaniwan. Masalah kemiskinan material kerap menjadi pintu masuk penderitaan batin yang lebih dalam, sehingga suara kenabian gereja perlu hadir dalam isu-isu duniawi yang menyentuh martabat manusia.
Sementara dalam pilar Una Spes, Mgr. Paulus menggambarkan harapan sebagai kekuatan nyata yang hidup dalam keseharian umat. Harapan itu tercermin dari kerja keras nelayan, penenun, dan petani di wilayah Lamaholot.
Ia menilai di bawah kepemimpinan gembala baru, harapan-harapan kecil tersebut dapat dihimpun menjadi energi kolektif menuju kehidupan umat yang lebih adil, bermartabat, dan penuh kasih.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....