Tahbisan Uskup Larantuka di Tengah Duka Erupsi Lewotobi
- 11 Feb 2026 17:02 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Larantuka – Perayaan tahbisan Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, yang digelar pada Rabu, 11 Februari 2026, berlangsung dalam suasana yang sarat makna. Momentum sakral tersebut tidak hanya menjadi peristiwa penting dalam kehidupan Gereja Katolik, tetapi juga menghadirkan refleksi iman di tengah kondisi darurat akibat erupsi Gunung Lewotobi yang belum sepenuhnya pulih.
Erupsi Gunung Lewotobi yang terjadi beberapa waktu lalu menyebabkan ribuan warga terdampak dan sebagian di antaranya masih bertahan di hunian sementara. Kondisi tersebut membayangi suasana tahbisan yang seharusnya penuh sukacita, namun berubah menjadi ajakan untuk memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial.
Dalam sambutannya, Mgr. Yohanes secara terbuka mengakui situasi sulit yang sedang dihadapi keuskupan. Ia menyampaikan bahwa tahbisannya berlangsung di tengah luka yang masih dirasakan umat akibat bencana alam.
“Saya menyadari bahwa perayaan tahbisan ini berlangsung di tengah situasi keuskupan yang sedang terluka,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kondisi para penyintas erupsi Gunung Lewotobi yang hingga kini belum sepenuhnya keluar dari ketidakpastian. Menurutnya, penderitaan yang dialami masyarakat menjadi realitas yang tidak bisa diabaikan oleh Gereja.
“Saudara-saudari kita, para penyintas erupsi Gunung Lewotobi, masih tinggal di hunian sementara dalam genangan lumpur dan ketidakpastian masa depan,” katanya.
Mgr. Yohanes menegaskan bahwa situasi ini merupakan panggilan bagi Gereja untuk hadir secara nyata di tengah umat. Ia menekankan pentingnya peran pastoral yang tidak hanya bersifat liturgis, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan.
“Dalam situasi ini, Gereja dipanggil untuk hadir, mendengarkan, dan menemani dengan kasih,” ucapnya.
Di tengah suasana duka akibat bencana, Mgr. Yohanes mengajak seluruh umat untuk tetap memelihara harapan. Ia menegaskan bahwa Kristus tidak pernah meninggalkan Gereja-Nya, bahkan dalam situasi paling sulit sekalipun.
Ia berharap Keuskupan Larantuka semakin dipersatukan sebagai satu tubuh dalam Kristus, digerakkan oleh satu Roh, dan diarahkan pada satu harapan keselamatan. Tahbisan ini pun menjadi simbol bahwa di tengah bencana dan ketidakpastian, Gereja tetap berdiri sebagai tanda kehadiran Kristus yang menguatkan, menyembuhkan, dan membangun kembali harapan umat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....