Dapur Umum Belum Tersedia, Pengungsi Reok Masih Andalkan Dapur Darurat

  • 20 Agt 2026 01:48 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai - Dapur darurat di posko pengungsian Barang Kolong, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan makan para pengungsi dan relawan. Kondisi tersebut berlangsung sejak hari pertama bencana, sementara dapur umum yang diharapkan dapat mendukung kebutuhan pengungsi hingga kini belum tersedia.

Ketua PKK Kecamatan Reok, Fenti Sujarni, mengatakan dapur di Posko Barang Kolong dikelola secara swadaya oleh petugas TNI-Polri dan beberapa ibu-ibu pengungsi dan beroperasi sejak hari pertama usai kejadian gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu 15 Agustus 2026 pagi. Dapur tersebut memasak dua kali sehari, yakni untuk kebutuhan makan siang dan malam.

“Sejak hari pertama. Kalau ketersediaan terbatas, kami sediakan untuk relawan. Kalau ada kelebihan, nanti dibagi,” ujar Fenti kepada RRI, Rabu sore 19 Agustus 2026.

Menurutnya, menu yang disiapkan menyesuaikan dengan bahan pangan yang tersedia. Jika ada bantuan berupa ayam, bahan tersebut diolah menjadi makanan, sedangkan ketika persediaan terbatas, pihaknya mengandalkan bahan yang tersedia seperti mi dan telur.

Dirinya juga menyampaikan, jumlah makanan yang disiapkan juga menyesuaikan ketersediaan bahan pangan dan jumlah warga yang membutuhkan. Selain pengungsi, dapur tersebut turut melayani relawan, petugas, serta sopir yang datang membawa bantuan ke lokasi pengungsian.

Di tengah kondisi tersebut, Camat Reok, Rita Udin, mengatakan dapur yang saat ini beroperasi masih bersifat darurat. Pemerintah kecamatan terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan dukungan dapur umum bagi para pengungsi dapat terpenuhi.

“Dapur ini masih darurat sampai hari ini. Kami juga masih berkoordinasi terkait penanganan dan kewenangan masing-masing,” ujar Rita.

Rita juga mengatakan, pemerintah kecamatan sebelumnya telah berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk perwakilan BNPB, mengenai kebutuhan dapur umum bagi para pengungsi. Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan dukungan kebutuhan makan di lokasi pengungsian dapat terpenuhi.

“Sepaham kami kemarin penanganannya oleh BNPB. Kami juga sudah berkomunikasi dengan yang mewakili BNPB, tetapi sampai hari ini belum ada dapur umum,” ungkapnya.

Selain menunggu dukungan dari BNPB, pemerintah kecamatan juga berharap rencana penyediaan dapur umum dari lembaga swadaya masyarakat (NGO) maupun bantuan dari sejumlah instansi dapat segera direalisasikan. Namun, hingga kini bantuan tersebut belum terealisasi sehingga dapur darurat masih harus berjalan dengan keterbatasan yang ada.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....