Lamba Leda Utara Masih Butuh Bantuan Obat dan Tenaga Medis Pascagempa
- 18 Agt 2026 07:41 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Timur - Camat Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Agus Supratman, yang wilayahnya mengalami dampak cukup parah pascagempa berkekuatan magnitudo 7,7 pada Minggu 15 Agustus 2026 pagi, menyebut warga terdampak gempa di wilayahnya masih membutuhkan bantuan, terutama obat-obatan, tenaga medis, air minum, beras, listrik, dan jaringan internet.
Agus juga menyampaikan, persediaan obat-obatan yang tersedia saat ini masih mencukupi untuk sementara waktu. Namun, kebutuhan tersebut tetap perlu dipenuhi mengingat kondisi warga yang masih berada di sejumlah posko pengungsian.
“Yang kedua, kami tetap butuh bantuan obat-obatan, walaupun persediaan yang ada cukup untuk yang tidak terlalu lama ke depan. Kami tetap butuh obat-obatan. Kami butuh dokter, tenaga medis, relawan, air minum, beras, listrik dan jaringan internet,” ujar Agus saat ditemui di Posko Kampung Damer, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, Senin 17 Agustus 2026.
Menurutnya, jaringan internet menjadi salah satu kebutuhan penting karena masyarakat dan pemerintah membutuhkan akses informasi di tengah kondisi pascagempa.
Agus menjelaskan, jumlah warga yang sebelumnya tercatat berada di posko induk mencapai 682 orang. Namun, jumlah tersebut saat ini belum dapat diperbarui karena sebagian warga telah meninggalkan posko dan kembali ke sekitar rumah masing-masing.
Kendati demikian, warga tersebut belum sepenuhnya kembali menempati rumah. Sebagian memilih mendirikan posko mandiri di sekitar rumah karena masih khawatir terhadap kondisi bangunan dan kemungkinan gempa susulan.
“Sebagian warga kembali ke rumah masing-masing, tapi bukan untuk berdomisili kembali di rumah. Mereka bangun posko mandiri di samping rumah karena belum berani masuk ke rumah,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dirinya menambahkan, posko induk yang berada di wilayah tersebut bukan satu-satunya lokasi pengungsian. Sejumlah posko unit maupun posko mandiri juga tersebar di berbagai titik yang dinilai lebih aman.
Ia mengatakan, warga cenderung memilih lokasi yang berada di tempat lebih tinggi dan menghindari wilayah lembah sebagai tempat mendirikan posko sementara.
“Sejauh ini ini hanya posko induk, sedangkan posko-posko unit atau posko mandiri tersebar di mana-mana, tetapi tidak ke tempat yang lembah, ke tempat yang agak tinggi,” ucap Agus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....