Bocah Enam Tahun Meninggal Setelah Tertimpa Reruntuhan Rumah Saat Gempa NTT
- 18 Agt 2026 07:50 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Timur - Seorang anak perempuan berusia enam tahun meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan rumah saat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur, Minggu 15 Agustus 2026 pagi. Korban sempat mendapat pertolongan medis sebelum akhirnya meninggal sekitar pukul 15.00 WITA.
Orang tua korban, Rukiani dan Rusdin, menceritakan detik-detik saat gempa terjadi. Rusdin mengatakan, saat gempa mengguncang, dirinya bersama istri dan anak-anak masih tertidur di dalam rumah.
“Pas gempa, kaget saya. Saya bangunkan istri sama anak. Karena lampu langsung mati, kabel terputus semua, saya takut kena strum,” ujar Rusdin saat ditemani di kediamannya, Senin 17 Agustus 2026.
Dalam kondisi gelap dan panik, Rusdin kemudian berusaha menyelamatkan anaknya yang berada di rumah milik neneknya, yang berjarak sekitar lima meter dari rumah mereka. Rumah tersebut merupakan bangunan beton dan bagian dindingnya roboh akibat guncangan gempa.
“Saya sudah lihat itu dinding rumah sudah rubuh. Tapi saya lari terus dengan mamanya. Pikiran saya masih berpikir anak masih di dalam runtuhan itu,” katanya.
Rusdin kemudian mencari korban di antara reruntuhan. Setelah mendengar suara tangisan, ia menemukan tangan anaknya dan berusaha menariknya keluar dari timbunan material bangunan.
“Saya dengar suaranya, dia menangis. Saya angkat batu, saya dapat tangannya. Saya tarik dia,” ucap Rusdin.
Korban selanjutnya dibawa menggunakan sepeda motor ke tempat yang lebih aman. Saat itu, keluarga belum mengetahui secara pasti seberapa parah luka yang dialami korban. Namun, setelah beberapa waktu, keluarga melihat darah terus keluar dari bagian kepala korban.
Rukiani juga mengatakan, keluarga sempat kesulitan mendapatkan layanan medis karena situasi pascagempa masih dalam kondisi panik. Mereka kemudian mendapat informasi mengenai adanya tenaga medis di lokasi pengungsian di daerah yang lebih tinggi.
| Baca juga: KKP Minta Pemkab Sikka Data 68 Desa Pesisir |
Setelah dibawa ke posko pengungsian, korban mendapat infus. Namun, menurut keluarga, luka pada bagian kepala korban baru diketahui lebih jelas ketika akan dilakukan tindakan medis. Keluarga kemudian mendapat informasi bahwa korban membutuhkan penanganan lebih lanjut di Borong.
“Kita kan linglung, mau ke Borong ini kita mau pakai apa? Mereka bilang jangan sampai jalan terputus, karena belum ada komunikasi dari sana. Jadi kita pasrah saja,” kata Rukiani.
Korban akhirnya meninggal dunia sekitar pukul 15.00 WITA. Jenazah korban kemudian dimakamkan pada hari yang sama karena keluarga khawatir kondisi kembali memburuk dan terjadi gempa susulan pada malam hari.
Rusdin mengatakan, dari enam anaknya, lima anak lainnya selamat dan tidak mengalami luka serius. Korban yang meninggal merupakan anak perempuan berusia enam tahun dan masih duduk di taman kanak-kanak.
“Rencananya mau simpan sampai besok, tapi kami pikir jangan sampai malam kejadian lagi, orang lari. Saya rayu mamanya, kubur saja,” ungkap Rusdin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....