Wamenkomdigi: Indonesia Harus Perkuat Infrastruktur AI agar Tak Hanya Jadi Pasar
- 21 Jul 2026 11:34 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Jakarta – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menegaskan Indonesia perlu memperkuat infrastruktur kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) agar tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga mampu berperan dalam rantai pasok AI global.
Hal tersebut disampaikan Nezar dalam workshop bertajuk Kesiapan Infrastruktur, Regulasi, dan Dampak Sosial-Ekonomi Kecerdasan Buatan di Indonesia di Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026).
Menurut Nezar, persaingan global dalam pengembangan AI kini tidak lagi berfokus pada aplikasi atau produk akhir. Persaingan telah bergeser ke penguasaan infrastruktur pendukung, seperti energi, pusat data, chip semikonduktor, komputasi, dan sumber daya manusia.
"Kita selama ini disibukkan bermain di hilir, tapi kita melupakan yang hulu. Padahal hilir itu cuma produk akhir yang mungkin lebih tepat buat negara-negara yang menjadikan dirinya sebagai pasar, sementara yang di hulu, infrastruktur AI ini sangat penting," ujar Nezar.
Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk masuk dalam rantai pasok AI global melalui pemanfaatan sumber daya alam yang dimiliki. Salah satunya adalah cadangan pasir silika yang menjadi bahan baku industri semikonduktor.
"Potensi Indonesia untuk masuk ke global supply chain itu cukup besar. Kalau kita lihat di infrastruktur untuk membuat semikonduktor dibutuhkan pasir silika. Ada 340 juta ton kurang lebih cadangan pasir silika di Indonesia," katanya.
Nezar menegaskan potensi tersebut harus didukung melalui kebijakan hilirisasi agar mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam industri teknologi global.
"Jadi, saya kira hilirisasi itu bukan cuma slogan. Hilirisasi adalah downstreaming dari mineral dan bahan-bahan lain. Ini adalah langkah strategis yang harus dieksekusi oleh semua stakeholder yang ada di Indonesia, terutama di industri elektronik yang sedang bergerak sangat dinamis saat ini," ujarnya.
Selain penguatan industri, Nezar menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam rantai pasok AI global.
"Butuh kolaborasi semua stakeholder di bidang infrastruktur ini untuk bisa memperbesar bargaining position kita. Kita harus bisa menciptakan choke point. Kalau kita bicara soal industri semikonduktor, siapa yang akan mengontrol jalur supply chain ini adalah negara-negara yang bisa menciptakan choke point," tegasnya.
Menurut Nezar, pengembangan talenta digital juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. Ia menilai sumber daya manusia yang unggul mampu menjadi kekuatan Indonesia dalam menghadapi keterbatasan infrastruktur.
Ia menegaskan keberhasilan Indonesia memanfaatkan perkembangan AI tidak hanya bergantung pada kemampuan mengadopsi teknologi, tetapi juga pada kesiapan membangun ekosistem digital yang kuat dan berkelanjutan.
"Masa depan AI sedang ditulis di Asia, dan Indonesia punya peran penting dalam narasi ini. Pilihan kebijakan yang kita ambil hari ini akan menentukan siapa yang menikmati manfaat AI di masa depan," tandasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....