Menhut Tegaskan Pembatasan Kuota Wisatawan di TN Komodo untuk Cegah Over Tourism

  • 14 Apr 2026 20:27 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa kebijakan pembatasan kuota wisatawan di Taman Nasional (TN) Komodo merupakan langkah serius pemerintah untuk menjaga kelestarian kawasan konservasi tersebut dari ancaman over tourism.

Menurut Raja Juli Antoni, kebijakan itu diambil atas arahan langsung Presiden Prabowo Subianto agar pengelolaan taman nasional dilakukan secara serius dengan mengedepankan prinsip ekowisata.

“Saya mendapat perintah khusus dari Pak Presiden Prabowo Subianto untuk secara serius mengelola taman nasional kita. Karena itu, kami memutuskan untuk membatasi kuota turis atau pariwisata di Komodo,” kata Raja Juli Antoni, saat Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI, Selasa 14 April 2026, dikutip dari postingan Instagram Raja Juli Antoni.

Ia menjelaskan, keputusan tersebut didasarkan pada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa lonjakan kunjungan wisatawan dalam jangka panjang dapat merusak ekosistem kawasan, termasuk menurunkan daya tarik utama TN Komodo sebagai destinasi wisata alam.

“Research menunjukkan, apabila dalam jangka panjang terjadi over tourism, itu akan berakibat pada kerusakan dan pada akhirnya tidak ada lagi daya tarik yang bisa dinikmati,” ujarnya.

Sebagai seorang penyelam, Raja Juli mengaku melihat langsung perubahan kondisi bawah laut di kawasan konservasi tersebut. Ia menilai kerusakan terumbu karang sudah mulai terlihat akibat ketidakseimbangan antara daya dukung lingkungan dan jumlah kunjungan wisatawan.

“Saya seorang diver, dan saya bandingkan dengan beberapa tahun lalu, betapa rusaknya terumbu karang kita karena daya tampung dan daya dukung yang tidak seimbang,” katanya.

Selain itu, dirinya juga mencontohkan kondisi di Pulau Padar saat musim liburan puncak, yang menurutnya sudah terlalu padat dan mengurangi kualitas pengalaman wisata.

“Saya pernah ke Pulau Padar saat puncak libur, itu benar-benar seperti pasar. Penuh sekali, orang antre seperti di mal. Keindahannya tidak bisa dinikmati, keamanannya berbahaya, sampah juga ada di mana-mana,” ungkapnya.

Raja Juli menekankan, pembatasan kuota wisatawan bukan untuk menghambat pariwisata, melainkan menjaga keseimbangan antara kepentingan ekologi dan ekonomi agar manfaat kawasan tetap berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

“Menyeimbangkan antara ekologi dan ekonomi adalah gagasan besar. Ini kekayaan yang harus kita jaga, tetapi juga harus memberi implikasi terhadap kesejahteraan masyarakat,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....