Layanan Kesehatan Caritas Berhasil Menjangkau 22 Titik
- 04 Sep 2026 14:33 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende- Tim kesehatan dalam program Caritas Indonesia telah memberikan pelayanan pemeriksaan dan pengobatan kepada masyarakat di sekitar 22 titik di sejumlah wilayah. Pelayanan dilakukan oleh dua tim dengan menyasar warga di paroki, stasi, lokasi pengungsian hingga lembaga pendidikan yang membutuhkan layanan kesehatan.
Sr. M. Ernesta, CIJ, tenaga kesehatan dari Klinik St. Martin De Porres, Jalan Diponegoro, Ende, mengatakan pelayanan dilakukan langsung dengan mendatangi masyarakat. Hal tersebut disampaikannya saat diwawancarai RRI Ende, Senin, 1 September 2026, di Aula PSE Ende, Posko Utama Keuskupan Agung Ende.
Ia menjelaskan, pelayanan diawali dari Paroki Wewaloe, Stasi Waembrung, Paroki Bekek, Kuasi Paroki Nuabosi, Paroki Komandaro, Stasi Wolombra dan Toposoke. Tim kemudian bergerak ke Seminari Mataloko, Riung, Latung, Damo, Paroki Boawae, Stasi Roe, Stasi Dhawe, Paroki Wekaseko dan Stasi Watuapi.
Pelayanan berikutnya menjangkau Paroki Ratesuba, Paroki Mukusaki, Ropa, Naungan Kasih hingga SMK Ndona. Di setiap titik, tim memberikan pemeriksaan dan pengobatan dengan menyesuaikan keluhan serta kondisi kesehatan masyarakat yang ditemui.
Dalam pelayanan tersebut, tim juga mendapat dukungan tenaga medis dari luar daerah, salah satunya dr. Alvin Chandra, dokter umum dari MEDISAR FKIK Atma Jaya. Dokter umum dari Jakarta itu ikut melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap masyarakat di sejumlah lokasi pengungsian, ujarnya.
Salah satu pelayanan dengan jumlah penerima cukup banyak dilakukan di Seminari Mataloko. Lebih dari 300 anak mendapatkan pelayanan kesehatan dan sebagian mengalami keluhan batuk serta pilek setelah harus tinggal dan tidur di tenda, ucapnya.
Menurutnya, pelayanan dilakukan bersama puskesmas dan berkoordinasi dengan pemerintah desa. Kepala Dinas Kesehatan Bajawa juga turut turun bersama tim saat pelayanan di wilayah tersebut, sehingga penanganan masyarakat dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi.
Ia menambahkan, perjalanan menuju sejumlah lokasi menjadi tantangan tersendiri bagi tim. Perjalanan malam dengan kondisi jalan yang sempit, naik turun dan jarak yang cukup jauh harus dilalui untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan pelayanan.
Sr. M. Ernesta berharap kolaborasi antara tenaga medis, puskesmas, pemerintah desa dan lembaga kemanusiaan dapat terus diperkuat. Menurutnya, pelayanan kesehatan perlu dilanjutkan agar warga di lokasi pengungsian tidak hanya memperoleh bantuan saat kondisi darurat, tetapi juga mendapatkan pendampingan kesehatan selama masa pemulihan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....