ASI Eksklusif Butuh Edukasi dan Dukungan Keluarga, Kata Konselor Laktasi

  • 16 Jul 2026 21:01 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada ibu, tetapi juga membutuhkan edukasi yang tepat serta dukungan penuh dari keluarga dan lingkungan sekitar. Hal itu disampaikan WHO Certified Lactation Counselor, dr. Yolanda Elisabeth, dalam program siaran Zona Edukasi RRI Labuan Bajo, Selasa 14 Juli 2026.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Yolanda menjelaskan bahwa menyusui bukan sekadar memberikan nutrisi kepada bayi, tetapi juga menjadi proses membangun ikatan kasih sayang antara ibu dan anak yang memerlukan ekosistem pendukung yang kuat.

Menurutnya, perjalanan menyusui yang berhasil sebaiknya dimulai sejak satu jam pertama setelah bayi lahir melalui Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Langkah tersebut membantu bayi mengenali ibunya dan memulai proses menyusui dengan baik sejak awal.

Dirinya juga menekankan, pentingnya pendampingan dari konselor laktasi untuk membantu ibu dan keluarga menjalani proses menyusui secara eksklusif hingga anak berusia dua tahun.

Dalam sesi edukasi tersebut, dr. Yolanda turut meluruskan anggapan yang kerap membuat ibu baru cemas, yakni mitos bahwa produksi ASI tidak mencukupi.

“Produksi ASI didorong oleh hormon prolaktin dan oksitosin. Hormon-hormon ini dipicu oleh seberapa sering bayi menyusu. Semakin sering disusui, semakin banyak pula ASI yang diproduksi,” ujarnya.

Selain frekuensi menyusui, ia menjelaskan bahwa posisi dan perlekatan bayi saat menyusu menjadi faktor penting dalam keberhasilan pemberian ASI. Posisi tubuh bayi harus lurus dengan telinga, bahu, dan pinggul berada dalam satu garis. Sementara itu, mulut bayi perlu terbuka lebar hingga mencakup sebagian besar areola, bukan hanya puting susu.

“Perlekatan yang kurang tepat sering menjadi penyebab puting lecet dan ASI tidak keluar secara optimal,” katanya.

Selain itu, dr. Yolanda juga mengingatkan pentingnya pemenuhan gizi bagi ibu menyusui. Menurutnya, ibu membutuhkan tambahan energi sekitar 700 kalori per hari agar kebutuhan nutrisi bayi terpenuhi tanpa mengurangi kondisi kesehatan ibu.

Bagi ibu yang bekerja, ia membagikan panduan penyimpanan ASI perah (ASIP) agar kualitasnya tetap terjaga. ASIP dapat disimpan hingga enam jam pada suhu ruangan, dua hari di chiller kulkas, dan hingga tiga bulan di dalam freezer.

Pada akhir sesi, dr. Yolanda menegaskan bahwa stres merupakan salah satu faktor yang dapat menghambat kelancaran produksi ASI. Karena itu, dukungan dari suami dan keluarga sangat diperlukan untuk menjaga kondisi fisik maupun mental ibu.

Menurutnya, dukungan emosional dan bantuan dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dapat mengurangi kelelahan dan stres pada ibu menyusui. Saat ibu merasa tenang dan bahagia, hormon oksitosin akan bekerja lebih optimal sehingga produksi dan pengeluaran ASI menjadi lebih lancar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....