Dinkes Sikka Cari Solusi Atasi Kekosongan Obat ODGJ di Puskesmas
- 13 Jun 2026 21:31 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Sikka – Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka terus berupaya mengatasi kekosongan obat bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang terjadi di sejumlah puskesmas. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pasien ODGJ membutuhkan pengobatan rutin dan berkelanjutan untuk menjaga stabilitas kondisi kesehatannya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, mengatakan sebagian besar obat ODGJ merupakan obat program yang pengadaannya dilakukan oleh pemerintah pusat. Setelah itu, distribusi dilakukan melalui pemerintah provinsi sebelum disalurkan ke kabupaten dan kota.
Menurut Petrus, kondisi kekosongan obat program tersebut hampir terjadi setiap tahun, terutama memasuki pertengahan tahun.
“Biasanya di atas bulan Mei, Juni ini kita sudah mulai kekosongan,” ujarnya.
Ia menjelaskan stok obat yang diterima pada akhir tahun umumnya hanya mampu memenuhi kebutuhan pelayanan hingga Maret atau April. Setelah itu, pemerintah daerah harus menunggu pengiriman berikutnya dari pemerintah pusat.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka telah menyurati Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) guna mempercepat pemenuhan kebutuhan obat bagi pasien ODGJ.
Selain itu, Dinas Kesehatan juga berkoordinasi dengan dokter spesialis dan tenaga kesehatan untuk mengkaji kemungkinan penggunaan obat pengganti yang memiliki indikasi serta efektivitas serupa dengan obat yang saat ini mengalami kekosongan.
“Kira-kira dari pengganti item yang kosong ini apa, dan mereka sedang kaji itu,” kata Petrus.
Menurutnya, penggunaan obat alternatif menjadi langkah penting agar pasien tidak mengalami putus obat selama menunggu distribusi obat program dari pemerintah pusat.
Petrus mengungkapkan jumlah ODGJ berat di Kabupaten Sikka pada 2026 tercatat sebanyak 1.096 orang. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dan menunjukkan bahwa kebutuhan layanan kesehatan jiwa di daerah terus bertambah.
Ia menilai ketersediaan obat harus menjadi perhatian serius pemerintah pusat agar distribusi dapat disesuaikan dengan kebutuhan riil di daerah. Pasalnya, penghentian pengobatan pada pasien ODGJ berisiko menyebabkan kekambuhan dan menghambat proses rehabilitasi yang sedang dijalani.
Karena itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka berharap pasokan obat dapat segera tersedia sehingga pelayanan kesehatan jiwa kepada masyarakat tetap berjalan optimal dan berkesinambungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....