Empat Bulan Krisis Air, Warga Desa Sisir Rela Bangun Dini Hari
- 01 Okt 2026 09:16 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Timur – Menjemput Air Saat Dini Hari, Perjuangan Warga Desa Sisir di Tengah Kemarau
Ketika sebagian besar orang masih terlelap dalam tidur, suasana Desa Sisir, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, justru mulai bergerak. Dalam gelapnya malam, warga keluar rumah membawa jeriken dan ember, berjalan menuju sumber air dengan satu tujuan: mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Jarum jam menunjukkan pukul 03.00 WITA. Bagi warga Desa Sisir, waktu tersebut bukan lagi saat untuk beristirahat, melainkan waktu untuk memulai perjuangan mendapatkan air.
Sudah sekitar empat bulan sumur-sumur di sekitar permukiman warga mengering. Sumber air yang masih dapat dimanfaatkan berada di Nuling, Desa Sisir, tetapi debitnya sangat kecil sehingga warga harus rela mengantre berjam-jam.
Air yang didapat pun belum tentu jernih. Bau dan kondisi air membuat warga harus memilah penggunaannya, bahkan kembali mencari sumber lain untuk memenuhi kebutuhan tertentu.
Bagi warga yang membutuhkan air dalam jumlah lebih banyak, ada pilihan lain, yakni menyewa sepeda motor untuk mengangkut jeriken. Biayanya mencapai Rp10 ribu untuk setiap jeriken.
Bagi sebagian orang, Rp10 ribu mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi warga yang setiap hari harus mencari air, biaya tersebut menjadi beban tambahan di tengah kebutuhan rumah tangga yang terus berjalan.
Herry Narendra, salah seorang warga Desa Sisir, mengatakan krisis air bersih bukan persoalan baru bagi masyarakat setempat. Kondisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan semakin terasa ketika musim kemarau panjang.
"Kami sudah mengalami krisis air empat bulan terakhir, semua sumur kering. Untuk mendapatkan air kami harus bangun jam tiga pagi untuk mengantri sumur, itu pun airnya berbau dan kotor. Untuk mendapatkan air dalam jumlah banyak kami harus menyewa motor dengan harga sepuluh ribu per jerigen," ujar Herry.
Menurut Herry, kesulitan mendapatkan air telah dialami warga Desa Sisir selama puluhan tahun. Setiap musim kemarau datang, warga kembali dihadapkan pada persoalan yang sama.
Harapan warga pun sederhana. Mereka ingin pemerintah menghadirkan sumber air yang dapat digunakan secara berkelanjutan, sehingga kebutuhan dasar tersebut tidak selalu bergantung pada kondisi musim.
"Kondisi ini sudah kami alami selama puluhan tahun terakhir. Kami berharap perhatian pemerintah dan kondisi kami di Desa Sisir, kami butuh sumur bor, kami butuh air minum bersih," katanya.
Lebih dari 140 Kepala Keluarga Terdampak
Krisis air bersih kini dirasakan lebih dari 140 kepala keluarga di Desa Sisir. Dusun Nganta menjadi salah satu wilayah dengan kondisi paling parah, dengan lebih dari 60 kepala keluarga serta satu fasilitas kesehatan ikut terdampak.
Di wilayah ini, jeriken dan ember menjadi bagian dari keseharian warga. Ibu-ibu, bapak-bapak hingga anak-anak harus berjalan kaki sejauh satu hingga tiga kilometer menuju sumber air.
Perjalanan mendapatkan air tidak selesai ketika jeriken mulai terisi. Warga masih harus kembali menempuh jalan yang sama sambil membawa beban air untuk kebutuhan rumah tangga.
Bagi mereka yang tidak mendapatkan air pada siang hari, waktu mencari air bisa bergeser hingga tengah malam. Sekitar pukul 01.00 hingga 02.00 WITA, warga kembali mendatangi sumber air dan menunggu air merembes sedikit demi sedikit hingga terkumpul.
Malam yang bagi sebagian orang menjadi waktu untuk beristirahat, bagi warga Desa Sisir justru menjadi kesempatan untuk mendapatkan air. Tidak ada kepastian berapa banyak air yang akan diperoleh. Tidak ada jaminan air yang terkumpul akan jernih dan sesuai untuk semua kebutuhan. Yang pasti, mereka harus menunggu.
Di Desa Sisir, satu jeriken air tidak lagi sekadar wadah untuk membawa air. Di dalamnya ada waktu yang dikorbankan, tenaga yang dikeluarkan, jarak yang harus ditempuh, serta biaya yang harus dibayar ketika warga menggunakan jasa angkutan sepeda motor.
Air yang mengalir dari sumber menjadi sesuatu yang sangat berharga. Untuk mendapatkannya, warga harus mengubah waktu tidur menjadi waktu antre dan mengubah tenaga yang seharusnya digunakan untuk aktivitas lain menjadi tenaga untuk mengangkut air.
Bagi anak-anak, perjalanan menuju sumber air menjadi bagian dari keseharian. Bagi orang tua, perjalanan itu adalah kewajiban yang harus dilakukan agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Krisis air juga bukan hanya tentang sulitnya mendapatkan air minum. Ketika sumber air terbatas, warga harus mengatur penggunaannya untuk memasak, mencuci, mandi, dan kebutuhan lainnya.
Karena itu, harapan warga Desa Sisir bukan sekadar mendapatkan bantuan air ketika kemarau tiba. Mereka menginginkan sumber air yang dapat bertahan dan dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Sumur bor menjadi salah satu harapan yang disampaikan warga. Mereka ingin agar musim kemarau tidak selalu identik dengan bangun pada pukul 03.00 WITA, berjalan berkilo-kilometer, mengantre berjam-jam, dan pulang membawa jeriken yang belum tentu penuh.
Sebab bagi warga Desa Sisir, mendapatkan air bukan sekadar rutinitas. Itu adalah perjuangan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan paling dasar dalam kehidupan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....