Ketika Gempa Runtuhkan Rumah Terakhir Dua Anak Yatim Piatu di Manggarai

  • 02 Sep 2026 18:21 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai - Gempa bumi M 7,7 beserta ribuan getaran susulan di tanah Manggarai tak hanya meninggalkan puing-puing bangunan. Di Dusun Welong, Desa Wae Mulu, Kecamatan Wae Ri’i, guncangan hebat itu melumat habis monumen cinta dan ruang kenangan milik dua anak yatim piatu, Aprianus Lan dan Virgin Mamat.

Rumah tersebut merupakan warisan berharga dari almarhum Tomas Mamat dan almarhumah Natalia Seliman, orang tua mereka yang telah lama menghadap Sang Khalik.

Takdir hidup Aprianus dan Virgin memang tak pernah ramah. Sejak Aprianus berusia 4 tahun dan Virgin baru menyentuh usia 1 tahun, kedua orang tua mereka telah pergi untuk selamanya. Di usia yang amat belia, mereka dipaksa keadaan untuk tumbuh dan menyapa hari tanpa hangatnya pelukan ayah dan ibu.

Sebelum meninggalkan mereka untuk selamanya, Tomas dan Natalia sempat membangun sebuah rumah tembok sederhana. Boleh jadi, rumah itu adalah pesan cinta terakhir yang tidak sempat diucapkan kedua orang tua mereka.

Rumah yang dibangun bukan sekadar sebagai tempat berteduh, melainkan wujud pesan kasih yang tak terucap: "Kelak, ketika dewasa, anak-anak mereka tetap memiliki tempat untuk pulang."

Sepeninggal orang tua mereka, Aprianus yang kini duduk di bangku kelas 2 SMP Negeri 3 Wae Ri’i dan Virgin yang baru kelas 3 SDI Welong dibesarkan oleh dua nenek renta, Nenek Alek Tekok dan Nenek Sia Iju. Dengan tubuh yang kian membongkok dan rezeki yang serba terbatas, kedua nenek ini pasang badan menyekolahkan dan merawat kedua cucu tercinta.

Naas, harapan itu luluh lantak dalam hitungan detik. Gempa hebat merobohkan rumah warisan kedua orang tua mereka. Dinding tembok yang dahulu didirikan dengan tetesan keringat dan harapan kini berhamburan menjadi puing tak berguna.

Kini, Aprianus, Virgin, serta kedua nenek mereka terpaksa bertahan hidup di bawah naungan terpal darurat. Mereka menggigil disapa angin malam, terpanggang terik matahari siang, dan terus dibayangi ketakutan akan gempa susulan.

Masyarakat Desa Wae Mulu berharap pemerintah daerah, mulai dari Camat Wae Ri’i hingga Bupati Manggarai, dapat turun tangan langsung melihat kondisi keduanya di Welong. Di tengah keterbatasan, kedua nenek renta itu menyimpan doa sederhana: agar ada hati yang terketuk untuk mengulurkan tangan membiayai sekolah kedua cucu mereka.

Di antara puing-puing itu, masih ada dua anak yang harus terus melangkah. Aprianus dengan seragam SMP-nya, Virgin dengan seragam SD-nya.

Hati siapa yang tak teriris menyaksikan dua anak yatim piatu tertegun di atas puing rumah orang tua mereka, berdampingan dengan dua sosok tua yang kebingungan menatap masa depan? Aprianus dan Virgin telah kehilangan hangat dekapan orang tua sejak kecil. Jangan biarkan gempa ini merenggut sisa harapan dan tempat bernaung mereka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....