Di Tengah Gempa, Nakes RSUD Ruteng Tetap Bertahan Merawat Pasien
- 20 Agt 2026 14:07 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai – Langkah kaki para tenaga kesehatan di RSUD Ben Mboi Ruteng seolah tak mengenal jeda sejak gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang Kabupaten Manggarai, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Guncangan susulan yang masih terasa membuat rasa takut belum sepenuhnya hilang. Namun, di tengah situasi itu, para dokter dan perawat tetap bertahan di garis terdepan pelayanan kesehatan.
Keselamatan pasien menjadi alasan mereka untuk terus bergerak.
Velbed didorong keluar satu per satu. Pasien dievakuasi menjauh dari bangunan rumah sakit yang mengalami kerusakan dan dikumpulkan di ruang terbuka. Posko pelayanan darurat kemudian didirikan untuk memastikan perawatan tetap berjalan.
Di tengah keterbatasan, para tenaga kesehatan juga menyelamatkan obat-obatan, selang infus, tabung oksigen, serta peralatan medis yang masih dapat digunakan.
Kepanikan semakin terasa ketika keluarga pasien berdatangan. Pertanyaan dan kekhawatiran memenuhi halaman rumah sakit. Namun, para tenaga kesehatan tetap berusaha melayani dengan tenang.
Di antara tenda darurat dan bangunan rumah sakit yang rusak, pelayanan medis tidak boleh berhenti.
Hingga Rabu, 19 Agustus 2026 pukul 16.00 WITA, sebanyak 28 orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa di Kabupaten Manggarai. Sementara jumlah pengungsi mencapai 25.340 jiwa yang tersebar di 10 kecamatan.
Data kerusakan juga mencapai 5.960 unit, terdiri atas 35 fasilitas pemerintah, 226 fasilitas pendidikan, 9 fasilitas umum, 5.651 fasilitas masyarakat, dan 39 fasilitas kesehatan.
Di balik angka-angka tersebut, terdapat perjuangan para dokter dan perawat yang bekerja di tengah kondisi darurat.
Mereka bekerja di bawah tenda, halaman rumah sakit, hingga ruang terbuka. Terik matahari pada siang hari dan dinginnya udara Ruteng pada malam hari menjadi bagian dari keseharian mereka.
Bahkan, sebagian tenaga kesehatan akhirnya harus menjadi pasien.
Humas RSUD Ben Mboi Ruteng, Yohana R. D. Mari, mengatakan sejumlah dokter dan perawat mengalami kelelahan hingga membutuhkan penanganan medis.
“Ada beberapa tenaga medis, baik dokter maupun perawat, pada akhirnya menjadi pasien. Mereka diinfus, lalu tetap bekerja karena takut kekurangan tenaga untuk merawat pasien. Mereka diobati di UGD sambil terus bertugas, walau ada sebagian yang akhirnya dipaksa beristirahat.”
Bagi seorang perawat yang tidak ingin disebutkan namanya, hari pertama setelah gempa menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Rasa takut bercampur dengan tanggung jawab untuk menyelamatkan pasien. Guncangan susulan yang terus terjadi membuat pekerjaan dilakukan dalam suasana penuh kecemasan.
“Hari pertama itu kami bekerja setengah mati. Kami mendorong pasien dalam suasana ketakutan yang membatu, cemas, kaget, dan terus diguncang gempa susulan.”
Para tenaga kesehatan bahkan harus kembali memasuki bagian gedung rumah sakit yang mengalami kerusakan untuk mengambil persediaan obat.
“Obat-obatan kami ambil dari dalam ruangan yang retak itu. Kami pasang infus untuk setiap pasien di luar, pasang tenda agar mereka tidak kepanasan. Kami hanya ingin memastikan tidak ada hal buruk terjadi pada mereka.”
Perawatan di tenda darurat tentu bukan pekerjaan mudah. Keterbatasan ruang, peralatan, serta suhu dingin Kota Ruteng menjadi tantangan tersendiri.
Namun, pelayanan tetap berjalan.
Raut wajah para tenaga kesehatan menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan. Sebagian harus menahan rasa sakit dan lelah demi memastikan pasien tetap mendapatkan pertolongan.
Ada yang tangannya biasa memasang infus untuk pasien, tetapi dalam situasi ini harus menerima tusukan jarum untuk dirinya sendiri.
Mereka bekerja bukan karena tidak takut.
Mereka juga merasakan gempa, khawatir terhadap keluarga, kelelahan, dan membutuhkan istirahat.
Namun, di tengah situasi darurat, mereka memilih tetap berada di sisi pasien.
Sebab bagi para tenaga kesehatan RSUD Ben Mboi Ruteng, menyelamatkan dan merawat pasien adalah tanggung jawab yang tidak boleh berhenti hanya karena bencana datang.
Di tengah gempa yang mengguncang tanah, mereka tetap berdiri. Dan ketika tubuh akhirnya meminta jeda, semangat untuk menjaga kehidupan tetap menjadi alasan mereka untuk bertahan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....