Akbar Kelana Ungkap Tantangan Menjelajah Flores dengan Berjalan Kaki
- 20 Jul 2026 20:09 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Kreator konten sekaligus pejalan kaki asal Jakarta, Akbar Kelana, mengungkapkan perjalanan menjelajahi Indonesia dengan berjalan kaki membutuhkan persiapan fisik, mental, dan kemampuan navigasi yang matang. Pengalaman tersebut ia bagikan dalam podcast bersama RRI Ende.
Akbar mengatakan tidak semua rute yang dilaluinya dapat diandalkan melalui aplikasi navigasi. Menurutnya, sejumlah wilayah di pedalaman Flores belum sepenuhnya terpetakan sehingga ia harus mempelajari kondisi topografi sebelum memulai perjalanan.
"Di Flores saya tidak bisa sepenuhnya mengandalkan Google Maps. Ada beberapa jalur yang belum terbaca dengan baik, jadi saya harus riset dulu topografinya supaya tahu medan yang akan saya hadapi," ujar Akbar.
Selain navigasi, ia menerapkan pengaturan aktivitas harian untuk menjaga kondisi tubuh. Dalam satu hari, Akbar dapat berjalan sejauh 35 hingga 40 kilometer. Namun, setelah menempuh jarak tersebut, ia mengurangi intensitas perjalanan pada hari berikutnya menjadi sekitar 5 hingga 10 kilometer untuk pemulihan otot.
Menurutnya, pola tersebut penting agar tubuh tetap bugar dan terhindar dari cedera selama menjalani perjalanan lintas daerah.
Akbar juga membawa perlengkapan dengan total beban sekitar 15 kilogram yang dibagi pada tas depan dan belakang. Perlengkapan tersebut meliputi kamera untuk produksi konten, sleeping bag, fly sheet sebagai tenda darurat, jas hujan, pakaian ganti, serta vitamin.
Ia mengaku tantangan terbesar selama melintasi Pulau Flores bukan hanya soal jarak, tetapi juga karakter medan yang didominasi tanjakan dan turunan panjang.
"Kalau di Jawa jalannya banyak yang datar. Di Flores, naik turun terus. Saat menanjak mental benar-benar diuji karena tenaga terkuras, sementara saat turunan kaki juga bekerja keras menahan beban tubuh dan tas," katanya.
Salah satu jalur yang paling berkesan baginya adalah ruas Aimere–Bajawa. Jalur sepanjang sekitar 39 kilometer itu ditempuh selama dua hari dan disebut sebagai medan paling ekstrem selama perjalanannya di Flores.
"Saya sampai melihat rambu tikungan yang hampir membentuk lingkaran penuh. Waktu itu mental benar-benar turun. Karena tidak ada siapa-siapa, saya sampai marah-marah sendiri untuk meluapkan rasa lelah," ujarnya.
Selain kondisi medan, Akbar juga menghadapi tantangan alam selama perjalanan. Ia mengaku lebih mewaspadai suasana sepi di kawasan hutan maupun ancaman kawanan anjing liar yang beberapa kali mengejarnya.
"Yang paling sering saya hadapi justru anjing liar. Karena itu saya selalu membawa tongkat sebagai alat perlindungan diri ketika berjalan," kata Akbar.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Akbar menilai seluruh pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran yang memperkuat mental dan kemampuannya beradaptasi di setiap daerah yang disinggahi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....