Akbar Kelana: Keramahan Warga Flores Patahkan Stigma tentang NTT

  • 20 Jul 2026 20:05 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Kreator konten sekaligus pejalan kaki asal Jakarta, Akbar Kelana, mengaku seluruh kekhawatirannya tentang Nusa Tenggara Timur (NTT) sirna setelah merasakan langsung keramahan masyarakat Flores. Pengalaman tersebut ia bagikan dalam podcast bersama RRI Ende saat singgah di Kabupaten Ende.

Akbar mengatakan sebelum memasuki NTT ia sempat menerima berbagai pandangan negatif mengenai daerah tersebut. Namun, pengalaman selama berjalan kaki di Pulau Flores justru menunjukkan hal yang berbeda.

"Sebelum masuk NTT saya sempat mendengar banyak stigma. Tetapi setelah saya benar-benar berjalan di Flores, semuanya berubah. Yang saya temukan justru orang-orang yang sangat tulus dan begitu memanusiakan sesama," ujar Akbar dalam podcast RRI Ende.

Menurutnya, salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika warga yang hidup dalam keterbatasan tetap berusaha membantu dirinya selama perjalanan.

"Kalimat yang paling saya ingat itu, 'Aduh maaf ya, saya tidak punya apa-apa buat bekal kamu.' Padahal mereka sendiri hidup sederhana, tetapi masih memikirkan orang lain. Buat saya itu luar biasa," katanya.

Akbar menilai ketulusan masyarakat Flores tidak diukur dari banyaknya materi yang dimiliki, melainkan dari kepedulian terhadap sesama. Selama perjalanan, ia mengaku kerap diterima layaknya keluarga oleh warga yang ditemuinya.

Ia juga melihat adanya perbedaan budaya sosial antara kehidupan di kota besar dan di Flores. Menurutnya, kehidupan perkotaan cenderung lebih individualistis, sedangkan masyarakat Flores masih menjunjung tinggi nilai kebersamaan.

"Di kota kadang kita melihat budaya 'urusan masing-masing'. Tetapi di Flores saya merasakan kalau tuan rumah makan, tamu juga harus ikut makan. Mereka tidak akan membiarkan orang yang datang ke rumahnya kelaparan," ujarnya.

Selain keramahan, Akbar mengaku sering menerima cenderamata dari masyarakat sebagai bentuk penghormatan dan persaudaraan. Berbagai pemberian tersebut antara lain kain tenun, sarung tradisional, selendang, gelang, kalung, hingga pakaian.

Bagi Akbar, seluruh pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa stigma terhadap suatu daerah tidak selalu sesuai dengan kenyataan di lapangan.

"Perjalanan ini mengajarkan saya untuk tidak mudah percaya dengan stigma. Cara terbaik mengenal suatu daerah adalah datang, berjalan, dan berbicara langsung dengan masyarakatnya," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....