Dari Duka Menjadi Kekuatan, Nurhalizah Sukses Kembangkan Usaha Ikan Kering Keluar
- 06 Jun 2026 19:03 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Deretan ikan kering yang tersusun rapi di sebuah lapak di Pasar Wolowona, Kabupaten Ende, menjadi saksi perjuangan Nurhalizah, perempuan muda yang memilih meneruskan usaha keluarga setelah kepergian sang ayah. Dari balik lapak sederhana itu, ia tidak hanya mencari nafkah, tetapi juga menjaga warisan keluarga yang telah dirintis selama bertahun-tahun.
Nurhalizah, warga Jalan Sultan Hasanudin Km 5, Kabupaten Ende, mengaku telah mengenal dunia perdagangan sejak usia dini. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah membantu kedua orang tuanya menjual ikan kering di sejumlah pasar tradisional, mulai dari Tendale Wolowosa hingga Detusoko.
Namun, tanggung jawab penuh mengelola usaha tersebut baru ia emban setelah ayahnya meninggal dunia pada Januari 2024. Sebagai anak tunggal, Nurhalizah memutuskan melanjutkan usaha keluarga untuk membantu ibunya yang kini telah lanjut usia.
“Dari kecil saya memang sudah ikut jualan. Setelah bapak meninggal, usaha ini diteruskan ke saya. Mau tidak mau harus dijalani,” kata Nurhalizah kepada RRI, Jumat (6/6/2026).
Di tengah banyaknya generasi muda yang bercita-cita bekerja di kantor atau perusahaan, Nurhalizah justru menemukan makna hidup dari usaha yang diwariskan keluarganya. Menurutnya, berjualan ikan kering mengajarkan banyak hal, mulai dari tanggung jawab, kemandirian, hingga keberanian mengambil keputusan.
“Saya ingin melatih diri untuk mandiri dan berani mengambil keputusan sendiri,” ujarnya.
Kerja kerasnya kini mulai membuahkan hasil. Dalam kondisi normal, keuntungan bersih yang diperoleh dari usaha tersebut dapat mencapai lebih dari Rp1 juta per hari. Saat permintaan meningkat, pendapatan bersih bahkan bisa mencapai Rp2 juta hingga Rp3 juta per hari.
Meski demikian, perjalanan usahanya tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar adalah ketika pasokan ikan segar melimpah dan harga ikan basah turun di pasaran. Kondisi tersebut membuat minat masyarakat terhadap ikan kering berkurang sehingga penjualan ikut menurun.
Selain itu, cuaca buruk dan musim angin juga kerap memengaruhi ketersediaan stok. Keterlambatan kapal pengangkut ikan dapat menyebabkan harga bahan baku meningkat. Tidak jarang sebagian stok mengalami penurunan kualitas sehingga harus dialihkan menjadi pakan ternak untuk mengurangi kerugian.
Berbagai jenis ikan kering tersedia di lapaknya, mulai dari cumi, ebi, ikan bawo, ikan karang, katamba, hingga kerapu. Pasokan ikan tersebut didatangkan dari sejumlah wilayah seperti Pantai Utara Flores, Mbai, Labuan Bajo, dan Wuring di Kabupaten Sikka. Dari berbagai jenis yang dijual, ikan bawo menjadi komoditas yang paling diminati masyarakat Ende.
Di balik kesibukannya sebagai pedagang, Nurhalizah mengaku pernah memiliki cita-cita lain dan sempat menempuh pendidikan tinggi. Namun kondisi keluarga membuatnya memilih kembali melanjutkan usaha yang telah dibangun orang tuanya.
Meski demikian, ia tidak menyesali jalan hidup yang kini dijalani. Menurutnya, setiap orang memiliki perjuangan dan waktunya masing-masing untuk meraih keberhasilan.
“Kalau hari ini sulit, bertahan saja. Siapa tahu besok tidak sulit lagi. Yang penting tetap berusaha dan yakin bahwa akan ada hari baik untuk kita,” ungkapnya.
Ke depan, Nurhalizah berharap dapat mengembangkan usahanya dengan membuka lapak di lebih banyak lokasi. Ia ingin usaha yang diwariskan ayahnya tidak hanya menjadi sumber penghidupan keluarga, tetapi juga mampu membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.
Dari sebuah lapak sederhana di Pasar Wolowona, Nurhalizah membuktikan bahwa kehilangan bukanlah akhir dari segalanya. Dari duka yang pernah datang, ia memilih bangkit dan menjaga harapan tetap hidup melalui usaha yang menjadi warisan keluarganya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....