Kisah Pilu Olivia, Dua Dekade Lumpuh dan Tinggal di Bilik Seperti Kandang
- 25 Apr 2026 19:47 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Timur — Bilik kecil berdinding papan kayu di samping rumah saudaranya di Kampung Naju, Desa Teno Mese, Kecamatan Elar Selatan, menjadi tempat bertahan hidup bagi Olivia Piang (34). Hampir dua dekade terakhir, ia terbaring lumpuh tanpa kemampuan berjalan, terkungkung dalam ruang sempit yang membatasi seluruh aksesnya terhadap kehidupan di luar.
Ukurannya tak seberapa, lebih menyerupai kandang daripada ruang tinggal manusia. Di sanalah Olivia menghabiskan hari-harinya duduk, berbaring, dan menunggu. Menunggu keluarga pulang dari kebun. Menunggu makanan. Menunggu perhatian yang tak selalu bisa hadir setiap saat.
Tak banyak yang tahu, Olivia terlahir sebagai anak yang sehat. Ia tumbuh seperti anak-anak lainnya, ceria dan mudah bergaul. Namun perubahan mulai tampak saat usianya sekitar 10 tahun. Gejala gangguan kejiwaan perlahan muncul, lalu memburuk ketika ia beranjak remaja. Pada usia 15 tahun, kondisi itu mencapai titik paling berat, Olivia mengalami kelumpuhan total. Sejak saat itu, langkahnya terhenti.
Kini, hari-harinya bergantung pada uluran tangan keluarga. Sang ayah, Damianus Lomes, tidak lagi tinggal serumah. Perawatan Olivia dipercayakan kepada saudaranya, Petrus Basar, yang juga harus membagi waktu dengan pekerjaan di kebun. Dalam kondisi seperti itu, ada hari-hari ketika Olivia terpaksa menahan lapar.
“Kadang seharian dia tidak makan kalau keluarganya ke kebun atau bepergian. Mau ke rumah tetangga pun dia tidak bisa,” ungkap seorang anggota keluarga.
Bilik kecil tempat Olivia tinggal dibangun bukan tanpa alasan. Keterbatasan ruang di rumah utama dan kebutuhan praktis untuk buang air membuat keluarga memilih membangun ruang terpisah. Namun pilihan itu justru menyisakan ironi—Olivia hidup dalam keterasingan, di ruang yang jauh dari kata layak.
Secara administratif, keluarga ini bukan tanpa bantuan. Olivia tercatat sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari APBDes. Ayahnya juga terdaftar dalam Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sembako. Namun bantuan tersebut belum mampu menjawab kebutuhan mendasar, tempat tinggal yang manusiawi, perawatan khusus, dan dukungan kesehatan yang memadai.
Di balik keterbatasan fisik, tersimpan luka batin yang tak kalah berat. Keluarga menduga kondisi kejiwaan Olivia turut dipengaruhi rasa malu atas keterbatasannya, terlebih karena harus menjalani aktivitas dasar di ruang yang sama.
Ia yang dulu supel, kini memilih diam dalam dunianya sendiri. “Sudah hampir 10 tahun Olivia tidak pernah keluar rumah. Kami hanya bisa pasrah. Harapan kami, ada bantuan agar dia bisa tinggal lebih layak,” ujar keluarga.
Kisah Olivia bukan sekadar potret kemiskinan, tetapi juga cermin tentang keterbatasan akses dan perhatian bagi mereka yang paling rentan. Ia membutuhkan lebih dari sekadar belas kasihan, ia membutuhkan kepedulian nyata.
Pakaian layak, kasur, selimut, pampers dewasa, hingga kebutuhan pokok sehari-hari menjadi hal mendesak. Lebih dari itu, perbaikan tempat tinggal agar lebih manusiawi adalah harapan yang terus dijaga keluarga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....