Gerakan Sunyi dari Manggarai, saat Anak Muda Merawat Bumi dengan Cara Mereka

  • 20 Apr 2026 20:30 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Labuan Bajo – Pagi di Manggarai tidak selalu dimulai dengan suara mesin atau hiruk kota. Di beberapa desa, pagi justru dibuka dengan langkah-langkah pelan anak muda yang berjalan menuju kebun, membawa cangkul, bibit, dan harapan.

Di antara mereka, ada sebuah gerakan yang tidak banyak bicara, tetapi terus bekerja. Namanya Momang Lino—sebuah istilah dalam bahasa Manggarai yang berarti merawat atau menjaga bumi.

Gerakan ini lahir bukan dari proyek besar atau program pemerintah, tetapi dari kegelisahan sederhana. Anak-anak muda melihat perubahan yang tidak bisa mereka abaikan: tanah yang semakin lelah, air yang mulai berkurang, dan suhu yang terasa makin panas dari tahun ke tahun.

“Kalau kita tidak mulai sekarang, lima tahun ke depan mungkin sudah terlambat,” kata Lian Labut, Ketua Komunitas Momang Lino, dalam perbincangan di RRI Labuan Bajo.

Bagi mereka, menjaga alam bukan sekadar aktivitas lingkungan. Ini soal identitas. Soal bagaimana orang Manggarai memandang alam sebagai bagian dari jiwa.

Dalam kepercayaan lokal, hasil panen bukan hanya soal kerja keras, tetapi juga soal hubungan yang dijaga dengan alam dan leluhur. Tanah tidak hanya ditanami, tetapi dihormati. Air tidak hanya digunakan, tetapi dijaga.

Namun, nilai-nilai itu perlahan memudar.

Ketergantungan pada pupuk kimia dan pestisida membuat tanah kehilangan kesuburannya. Botol-botol bekas racun berserakan di pematang sawah. Hewan-hewan kecil yang dulu menjaga keseimbangan alam mulai hilang tanpa disadari.

Di titik itulah Momang Lino memilih bergerak. Pelan, tapi pasti.

Mereka menanam bambu di sumber-sumber air, berharap akar-akarnya bisa menahan tanah dan menjaga debit air tetap hidup. Mereka mendampingi petani untuk kembali mencoba cara lama—bertani tanpa bahan kimia, meski harus melawan kebiasaan yang sudah mengakar.

Di Desa Tal, yang dikenal sebagai lumbung pangan, perubahan itu tidak mudah. Petani sudah terbiasa dengan hasil instan dari pupuk dan pestisida. Meyakinkan mereka untuk beralih bukan perkara sehari dua hari.

Tapi Momang Lino tidak datang dengan teori. Mereka datang dengan contoh.

Hari demi hari, perlahan, kepercayaan itu mulai tumbuh. Kini, puluhan petani telah mencoba cara baru—atau mungkin, cara lama yang ditemukan kembali.

Gerakan ini juga tidak berhenti di kebun.

Di Ruteng, anak-anak muda mulai mengolah sorgum menjadi kue. Di Desa Rai, kacang tanah diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Di Desa Wewo, kopi dirawat bukan hanya untuk hasil, tetapi juga untuk menjaga tanah tetap hidup.

Semua berangkat dari satu keyakinan: bahwa masa depan tidak harus selalu datang dari luar. Ia bisa tumbuh dari tanah sendiri.

Namun, jalan ini tidak selalu mulus.

Tantangan terbesar justru bukan alam, tetapi manusia. Mengubah pola pikir jauh lebih sulit daripada menanam pohon.

Masih banyak yang percaya bahwa tanpa bahan kimia, hasil tidak akan maksimal. Masih ada anak muda yang kesulitan mengakses lahan karena belum berkeluarga. Dan tidak sedikit yang ragu apakah langkah kecil ini benar-benar berarti.

Tapi di tengah keraguan itu, Momang Lino memilih bertahan.

Mereka menyebutnya “gerakan sunyi”—bekerja tanpa harus selalu terlihat.

Langkah-langkah kecil menjadi prinsip mereka. Membawa tas belanja sendiri ke pasar. Menggunakan tumbler saat ke kebun. Mengurangi plastik dari rumah. Hal-hal sederhana yang sering dianggap sepele, tetapi jika dilakukan bersama, bisa menjadi perubahan besar.

Mereka juga belajar bercerita. Melalui jurnalisme warga, anak-anak muda ini mulai mendokumentasikan apa yang terjadi di desa mereka—tentang perubahan iklim, tentang tanah, tentang harapan.

Karena mereka sadar, suara dari desa sering kali tidak terdengar.

Dan mungkin, inilah yang membuat gerakan ini terasa berbeda.

Momang Lino tidak menunggu perubahan datang. Mereka menciptakannya. Dari desa, dari kebun, dari tangan-tangan muda yang memilih untuk peduli.

Di tengah dunia yang bergerak cepat, mereka justru memilih berjalan pelan. Tapi arah mereka jelas—menjaga bumi, menjaga masa depan.

Karena bagi mereka, alam bukan sesuatu yang dimiliki.

Ia adalah sesuatu yang diwariskan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....