Dari Rumah Kosong, Ila One Nua Nyalakan Mimpi

  • 13 Agt 2026 11:05 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Rumah kosong di Dusun Detupau, Desa Likanaka, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende diubah menjadi Taman Baca Ila One Nua oleh pegiat sosial Vicharlaka sejak tahun 2014.
  • Vicharlaka membawa buku-buku bekas setelah menyelesaikan kuliah dan menciptakan ruang belajar untuk anak-anak yang sebelumnya kekurangan akses terhadap koleksi bacaan dan fasilitas belajar.
  • Kehadiran taman baca perlahan mengubah kebiasaan anak-anak di kampung dari hanya bermain menjadi aktif membaca dan berkumpul untuk belajar bersama.

RRI.CO.ID, Ende - Sebuah rumah kosong di pelosok Dusun Detupau, Desa Likanaka, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, menjadi titik awal tumbuhnya harapan anak-anak melalui Taman Baca Ila One Nua. Pada 2014, Vicharlaka, pegiat sosial sekaligus pendiri taman baca tersebut, membawa buku-buku bekas setelah menyelesaikan kuliah dan mengubah ruang yang sebelumnya dianggap tidak berpenghuni itu menjadi tempat anak-anak belajar dan berkumpul.

Sebagai putra asli Kampung Detupa, Vicharlaka mengaku terdorong oleh keprihatinan terhadap keterbatasan yang dihadapi anak-anak di kampungnya. Sepulang sekolah, anak-anak lebih banyak bermain karena belum memiliki ruang belajar dan bacaan yang memadai, hingga kehadiran taman baca perlahan mengubah kebiasaan mereka untuk datang, membaca, dan bertumbuh bersama.

Membangun taman baca di wilayah terpencil bukan tanpa tantangan, terutama ketika anak-anak pada awalnya belum terbiasa berinteraksi dengan orang dari luar lingkungan mereka. Vicharlaka menggunakan pendekatan sederhana dengan mengajak anak-anak berkumpul dan bermain, termasuk membagikan permen, hingga mereka merasa nyaman menjadikan rumah kosong tersebut sebagai ruang bersama.

Nama Ila One Nua memiliki makna yang kuat bagi gerakan tersebut karena dalam bahasa Lio berarti “lampu yang menyala di tengah kampung”. Nama itu lahir dari kondisi kampung yang menurut Vicharlaka belum memiliki akses listrik sejak Indonesia merdeka, sehingga Ila One Nua dimaknai sebagai ajakan untuk menyalakan harapan dan pengetahuan anak-anak meskipun penerangan fisik belum tersedia.

Kegiatan di Taman Baca Ila One Nua kemudian berkembang melampaui aktivitas membaca buku dengan menghadirkan menggambar, bercerita dan mendongeng untuk melatih keberanian, serta kegiatan sosial berupa bersih-bersih kampung setiap bulan. Ruang tersebut juga berfungsi sebagai sekolah nonformal yang diharapkan menjadi tempat anak-anak menemukan lingkungan belajar yang aman, dekat dengan rumah, dan memberi mereka kesempatan untuk mengenali potensi serta mimpi masa depan.

Bagi Vicharlaka, Ila One Nua bukan sekadar bangunan atau kumpulan buku, melainkan ruang yang sengaja dihadirkan dari kampung sendiri untuk menjawab kebutuhan anak-anak di wilayah pedalaman. Dari sebuah rumah kosong yang dahulu dianggap tidak berpenghuni, gerakan ini tumbuh menjadi “pondok harapan” yang mengajak anak-anak menyalakan pengetahuan dan keberanian mereka sejak dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....