Menjahit Harapan di Tengah Lapar dan Haus Ramadan

  • 24 Mar 2026 08:23 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende - Di sebuah gang sempit di sudut kota kecil, hari bagi Elan dan Iyam selalu dimulai lebih awal dari kebanyakan orang. Ketika matahari belum sepenuhnya terbit, denting palu dan deru halus mesin jahit sudah memecah kesunyian. Ramadan yang bagi sebagian orang menjadi waktu memperlambat langkah, justru menghadirkan ritme yang lebih cepat bagi pasangan ini.

Di rumah sederhana yang sekaligus menjadi bengkel kerja, mereka menyambut hari dengan tekad yang sama: bekerja, beribadah, dan menjaga harapan tetap menyala. Tangan mereka terlatih oleh waktu. Obeng, palu kecil, tang, hingga jarum jahit besar bukan sekadar alat, melainkan perpanjangan dari ketekunan yang mereka hidupi setiap hari. Di sudut ruangan, tumpukan sofa lama menanti sentuhan—pegas yang patah, kain yang robek, dan busa yang kempis menjadi saksi perjalanan usia.

Bau lem kayu dan kain pelapis menguar, menyatu dengan semangat yang tak pernah surut, bahkan di tengah lapar dan dahaga. Ramadan tahun ini membawa berkah yang berbeda. Pesanan meningkat tajam, seiring banyak keluarga ingin memperindah ruang tamu mereka menjelang Lebaran.

Sofa yang lama terabaikan kini kembali dicari, diperbaiki, dan dihidupkan kembali. “Alhamdulillah, ramai sekali bulan ini,” ucap Elan sambil mengencangkan sekrup rangka sofa. Peluh sudah membasahi pelipisnya sejak pagi, namun raut wajahnya tetap tenang, seolah lelah telah menjadi sahabat lama.

Bagi mereka, puasa bukan alasan untuk mengendurkan kualitas kerja. Justru di situlah letak ujian sekaligus makna. Iyam, yang duduk bersila di lantai, dengan cekatan menjahit kain pelapis berwarna cokelat tua, sesekali tersenyum di balik lelah. “Capeknya memang terasa dua kali,” katanya pelan, “tapi pahalanya juga dua kali, insyaallah.” Dalam setiap tarikan jarum dan potongan kain, terselip keyakinan bahwa kerja adalah bagian dari ibadah.

Di sela kesibukan, panggilan azan menjadi jeda yang mereka jaga sepenuh hati. Saat azan zuhur berkumandang dari musala kecil di dekat rumah, alat-alat kerja segera diletakkan. Ruangan yang tadinya riuh mendadak hening, digantikan doa-doa lirih yang mengalun khusyuk. Di momen itulah, mereka meneguhkan kembali niat—bahwa segala lelah bukan semata untuk dunia, tetapi juga untuk keberkahan yang lebih besar.

Menjelang sore, ujian fisik mencapai puncaknya. Mengangkat sofa berat ke atas mobil pikap pelanggan saat perut kosong bukan perkara mudah. Namun Elan dan Iyam melakukannya tanpa keluh. Dengan napas panjang dan basmalah yang terucap lirih, mereka mengerahkan sisa tenaga. Keringat menetes, tangan bergetar, tetapi hati tetap teguh. “Kalau diniatkan untuk keluarga dan ibadah, rasanya beda,” ujar Elan, suaranya pelan namun penuh keyakinan.

Saat azan magrib akhirnya terdengar, mereka duduk berdampingan di bengkel yang mulai lengang. Segelas air putih dan beberapa butir kurma menjadi penawar dahaga yang dinanti sejak pagi. Sederhana, tetapi sarat makna. Di tempat itu—di antara busa, kain, dan sisa-sisa kerja—Ramadan menemukan wajahnya yang paling jujur: tentang kerja keras yang bersandar pada doa, tentang lelah yang dibungkus keikhlasan, dan tentang keyakinan bahwa setiap tetes keringat tak pernah jatuh sia-sia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....