Aksi Peduli Flores, Dari Literasi Hingga Ruang Aman
- 01 Sep 2026 20:17 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Sore perlahan turun di Mukusaki. Di tengah suasana yang masih menyisakan cerita tentang gempa, anak-anak mulai berkumpul di Aula Paroki Kristus Raja Mukusaki.
Ada buku yang dibuka, permainan yang dimainkan, tawa yang kembali terdengar, dan ruang kecil yang sengaja diciptakan agar mereka merasa aman. Hari itu, Minggu 30 Agustus 2026, Dusun Mukusaki tidak hanya menerima bantuan.
Di tempat ini, kepedulian datang dengan cara yang lebih hangat melalui literasi, permainan edukatif, pendampingan psikososial, hingga musik akustik yang menghidupkan suasana. Semua terangkum dalam Aksi Peduli Flores, sebuah gerakan kemanusiaan melalui Posko Flores Bangun yang diinisiasi Taman Baca Anak Merdeka bersama sejumlah komunitas dan mitra kolaborator.
Sebelum anak-anak menikmati sore mereka, pagi hari telah lebih dulu diisi dengan pembagian bubur kacang hijau bagi umat Paroki Kristus Raja Mukusaki. Sekitar 400 orang diperkirakan menerima makanan tersebut.
Siang harinya, para relawan bergerak menuju Dusun Mukusaki, Desa Mukusaki, dan Dusun II, Desa Kebirangga untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat. Namun, bagi para penggerak Posko Flores Bangun, membantu masyarakat terdampak bencana tidak cukup hanya dengan memberikan kebutuhan material.
Ada kebutuhan lain yang tidak selalu terlihat: kebutuhan untuk didengar, ditemani, bermain, belajar dan kembali merasakan kegembiraan. Karena itu, sore hingga malam hari menjadi milik anak-anak.
Mereka diajak membaca, bermain dan mengikuti berbagai aktivitas edukatif. Kegiatan psikososial dan ruang aman anak menjadi bagian penting dari rangkaian tersebut.
Ketua Taman Baca Anak Merdeka, Ilham, mengatakan gagasan menghadirkan ruang bagi anak-anak lahir dari kesadaran bahwa masa pemulihan setelah bencana juga membutuhkan perhatian terhadap kondisi psikologis mereka. Dirinya ingin lewat ruang psikososial ini, anak - anak kembali tersenyum dan bersemangat untuk melanjutkan hidup dan cita - citanya.
“Anak-anak tidak hanya membutuhkan bantuan berupa barang. Mereka juga membutuhkan ruang untuk bermain, belajar, bercerita dan kembali tersenyum. Karena itu kami ingin hadir bersama mereka, bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga membawa semangat,” ujar Ilham.
Menurutnya, Posko Flores Bangun dibangun dengan semangat kolaborasi. Taman Baca Anak Merdeka tidak berjalan sendiri, melainkan mengajak berbagai komunitas untuk mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.
“Kami percaya ketika banyak orang bergerak bersama, kepedulian akan menjadi lebih besar manfaatnya. Ada yang membawa buku, ada yang menghadirkan musik, ada yang mendampingi anak-anak, dan ada yang membantu memenuhi kebutuhan masyarakat,” katanya.
Semangat itu kemudian mempertemukan Taman Baca Anak Merdeka dengan Ende Music Community atau ENDEMIC, Nextara Band, Kelompok Pencinta Alam Tapak Lestari Sikka (KPA TALAS), Mapala UniMof, TBM Malego, Anak Negeri, Tatajiwa, Bumi Ende, Lebak Cireng, Aldo Audio dan Peduli 5000 Mama. Mereka datang dengan peran masing-masing, tetapi membawa tujuan yang sama: membantu Flores bangkit setelah gempa.
Di Mukusaki, bantuan akhirnya bukan sekadar tentang apa yang diberikan. Ia menjadi tentang bagaimana seseorang bersedia datang, duduk bersama warga, mendengarkan cerita mereka, menemani anak-anak bermain dan menghadirkan sedikit kegembiraan di tengah masa sulit.
Sebab setelah bencana, yang perlu dipulihkan bukan hanya rumah yang rusak dan kebutuhan yang berkurang. Ada hati yang perlu dikuatkan, ada anak-anak yang perlu diyakinkan bahwa dunia masih menjadi tempat yang aman, dan ada harapan yang harus terus dijaga.
Dari sebuah buku, permainan sederhana, semangkuk bubur kacang hingga alunan musik, Aksi Peduli Flores menunjukkan bahwa kemanusiaan kadang tumbuh dari hal-hal kecil. Dan di Mukusaki, hari itu, harapan kembali menemukan ruangnya di antara halaman buku, tawa anak-anak dan orang-orang yang memilih untuk peduli.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....