Menjaga Tradisi Lebaran di Lapak Daging, Harapan Pedagang Pasar Mbongawani Ende
- 20 Mar 2026 08:13 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende — Suasana Pasar Mbongawani, Kabupaten Ende, pada Jumat, 20 Maret 2026 pagi terlihat tak seramai hari sebelumnya. Di antara deretan lapak daging sapi, Muhammad Rafiansyah tetap setia melayani pembeli yang datang silih berganti, meski ritme pasar mulai melambat jelang H-1 Lebaran.
Bagi Rafiansyah, berdagang daging bukan sekadar pekerjaan musiman. Ia telah menjalani usaha ini selama kurang lebih 16 tahun, melanjutkan jejak orang tuanya yang lebih dulu menggantungkan hidup dari lapak sederhana di pasar mbongawani itu.
“Ini usaha dari orang tua, saya lanjutkan. Sudah lama, sekitar 16 tahun,” tuturnya kepada RRI Ende.
Sehari sebelumnya, tepat pada H-2 Lebaran, lapaknya nyaris tak pernah sepi. Warga berbondong-bondong datang membeli daging untuk kebutuhan hari raya. Dalam sehari, ia mampu meraup omzet hingga Rp22 juta—angka yang mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat menjelang momen Lebaran.
Namun, suasana berbeda terasa pada H-1. Sebagian besar pesanan telah disiapkan sejak dini hari, bahkan banyak yang sudah diambil atau diantar langsung ke pelanggan. Lapaknya kini lebih lengang, menyisakan pembeli yang datang untuk kebutuhan mendadak.
Di balik itu, Rafiansyah tetap berjibaku menjaga pasokan. Dalam kondisi normal, ia memotong hingga dua ekor sapi per hari. Namun kali ini, ia harus lebih cermat karena adanya pembatasan pemotongan yang hanya memperbolehkan sapi jantan.
“Kita hanya potong sapi jantan, jadi stok agak terbatas. Tapi tetap kita usahakan ada,” katanya.
Kebijakan tersebut menjadi tanda tanya bagi para pedagang. Rafiansyah mengaku belum mendapatkan penjelasan pasti mengenai alasan di balik aturan itu. Ia berharap ada kejelasan agar para pedagang tidak sekadar menjalankan aturan tanpa memahami tujuannya.
Meski menghadapi keterbatasan, semangatnya tak surut. Ia memastikan setiap pembeli tetap mendapatkan bagian, selama proses jual beli berlangsung tertib.
| Baca juga: Menjaga Asa lewat Helai Tenun Wolowaru |
“Kami usahakan semua kebagian. Insya Allah terpenuhi. Tapi harus antri, supaya kami bisa layani dengan baik,” ujarnya sambil melayani pembeli yang datang.
Di tengah dinamika pasar menjelang Lebaran, lapak Rafiansyah menjadi gambaran kecil dari denyut ekonomi rakyat. Ada kerja keras, harapan, dan juga ketidakpastian yang menyertai setiap transaksi.
Bagi para pedagang seperti dirinya, Lebaran bukan hanya tentang peningkatan penjualan, tetapi juga tentang menjaga kepercayaan pelanggan dan meneruskan tradisi usaha keluarga yang telah bertahan lintas generasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....